Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), perubahan perilaku konsumen, dinamika pasar, dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor penting yang harus dipahami para pemimpin usaha di Indonesia.

Meski menjadi tantangan, kondisi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku pasar.

>>> Dokter Imbau Anak Muda Cek Kolesterol Sejak Usia 20 Tahun

Pengusaha sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menegaskan bahwa peluang bisnis selalu hadir, bahkan saat ekonomi sedang tertekan.

Menurut Sandiaga, sektor ekonomi digital berbasis AI, green economy, dan wellness economy menunjukkan potensi pertumbuhan yang menjanjikan ke depan.

"Kesempatan itu ada di setiap tikungan. Saat ekonomi ada penurunan, pasti ada opportunity.

Ke depan mungkin di bidang AI dan digital economy, green economy, serta wellness economy," ujarnya dalam diskusi CORIM+ Conversation, Sabtu (13/6/2026).

Ia menambahkan bahwa kemampuan menangkap peluang tersebut tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan bisnis konvensional. Kolaborasi antar pelaku usaha menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi ekonomi.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah innovation dan collaboration. Pola old economy sudah tidak bisa lagi.

Saya tidak ingin kita punya 64 juta UMKM yang berjuang sendiri-sendiri. Kita harus membuka ruang yang lebih besar untuk kolaborasi," kata Sandiaga.

AI sebagai Amplified Intelligence

Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group (BCG) Edwin Utama menyoroti perkembangan AI yang lebih cepat dibandingkan gelombang teknologi sebelumnya.

Berdasarkan survei BCG terhadap 12.000 pekerja, mayoritas responden telah memanfaatkan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari.

>>> Timnas Indonesia U-19 Imbang Tanpa Gol Lawan Kamboja di Babak Pertama

Tantangan terbesar saat ini bukan sekadar meningkatkan produktivitas individu, melainkan mengubahnya menjadi produktivitas organisasi secara menyeluruh.