Pasar minyak mentah global bereaksi positif terhadap kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

Kesepakatan ini membuka peluang dibukanya kembali Selat Hormuz serta memulihkan pasokan minyak dan gas dunia.

>>> Ramayana Lestari Sentosa Bagikan Dividen Tunai Rp306,73 Miliar

Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa normalisasi total di pasar energi masih butuh waktu berbulan-bulan.

Langkah ini memang menekan risiko pasokan dan lonjakan harga, tetapi memulihkan kepercayaan pemilik kapal, perusahaan asuransi, dan kilang tidak bisa instan.

Kondisi diperumit oleh para pembeli yang telah beradaptasi dengan gangguan pasokan melalui rute alternatif. Hal ini membuat perdagangan energi tidak bisa langsung kembali seperti sebelum konflik.

Proses pemulihan jalur laut menghadapi kendala operasional nyata di lapangan. Dinamika pembersihan ranjau hingga penyesuaian logistik menjadi faktor penentu kecepatan normalisasi arus minyak.

"Pasar cenderung memperlakukan pembukaan kembali sebagai saklar yang Anda tekan, tetapi pada kenyataannya itu lebih merupakan sebuah proses," kata Haris Khurshid, kepala investasi di Karobaar Capital LP yang berbasis di Chicago.

"Aliran fisik dapat dimulai kembali dengan cepat. Kepercayaan biasanya tidak," tambahnya.

Ia menekankan bahwa pembukaan selat berbeda dengan normalisasi arus perdagangan.

Pembeli yang sudah telanjur mengamankan pasokan dan rute lain kemungkinan tidak akan segera beralih kembali ke Selat Hormuz.

Hal ini turut memperlambat pemulihan.

"Meskipun konflik mungkin telah berakhir dan aliran minyak melalui Selat Hormuz secara bertahap kembali normal, kerusakan yang telah terjadi tidak dapat dipulihkan dalam semalam," kata Priyanka Sachdeva, analis di Phillip Nova Pte Ltd.

Ia menambahkan bahwa kerusakan tidak hanya fisik pada infrastruktur minyak, tetapi juga tekanan ekonomi yang dialami negara-negara pengimpor minyak akibat biaya energi tinggi selama berbulan-bulan.