Keju sering menjadi tambahan favorit untuk berbagai hidangan, mulai dari mi instan, burger, hingga kentang goreng.

Namun, di balik rasa gurihnya, keju menyumbang kalori, lemak jenuh, dan natrium yang perlu diwaspadai.

>>> Manchester United Kejar Matheus Fernandes untuk Perkuat Lini Tengah

Menambahkan keju secara berlebihan, terutama pada makanan yang sudah tinggi kalori dan garam, dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Lantas, bagaimana cara menikmati keju tanpa risiko?

Efek Negatif Keju Berlebih

Keju memang sumber protein dan kalsium, tetapi penggunaannya sering kurang ideal. Menambahkan keju ke kentang goreng, burger, pizza, atau mi instan justru menambah kalori dan memudahkan makan berlebihan.

Menurut penelitian Barbara J.

Rolls dalam jurnal Nutrition Reviews, makanan dengan kepadatan energi tinggi cenderung membuat seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori sebelum merasa kenyang.

Jika terus-menerus, hal ini bisa menyebabkan kenaikan berat badan dan obesitas.

Selain itu, banyak keju mengandung lemak jenuh dan natrium. Bila ditambahkan ke makanan cepat saji atau ultra-proses, asupan lemak jenuh dan natrium pun meningkat.

WHO merekomendasikan batas asupan lemak jenuh kurang dari 10 persen total energi harian. WHO juga menyarankan pembatasan natrium untuk menurunkan risiko penyakit tidak menular, seperti jantung dan stroke.

Pola makan tinggi lemak jenuh dan natrium juga dikaitkan dengan peningkatan kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan tekanan darah.

Jadi, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah keju, tetapi juga makanan pendampingnya.

>>> MPMX Fasilitasi Wirausaha Disabilitas Lewat Program MPM BISA

Menambahkan keju sesekali tidak langsung menimbulkan masalah. Namun, jika menjadi kebiasaan sehari-hari, total asupan energi, lemak jenuh, dan natrium bisa melebihi kebutuhan tubuh.