Reaktor fusi nuklir Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) milik China berhasil menembus hambatan fisika yang selama puluhan tahun dianggap mustahil dilewati.

Kemajuan ini membawa manusia selangkah lebih dekat dalam mereplikasi cara kerja energi Matahari di Bumi.

>>> Apple dan Google Permudah Transfer eSIM Lintas Platform Lewat iOS 26 dan Android 16

Reaktor yang dijuluki "matahari buatan" ini mampu melompati batas Greenwald, titik kritis yang membuat plasma menjadi liar dan merusak dinding wadah.

Fusi nuklir di pusat Matahari terjadi pada suhu sekitar 15 juta derajat Celsius dengan tekanan sangat tinggi.

Kondisi ekstrem itu memaksa atom hidrogen bertabrakan dan menyatu menjadi helium, melepaskan energi masif.

Teknologi fusi dipandang sebagai cawan suci energi karena berpotensi menghasilkan listrik besar, rendah karbon, dan lebih bersih.

Bumi tidak memiliki gravitasi raksasa seperti Matahari untuk menekan partikel.

Ilmuwan China memanaskan gas hidrogen di reaktor tokamak berbentuk donat hingga suhu melampaui 100 juta derajat Celsius.

Suhu ekstrem mengubah gas menjadi plasma berisi inti atom dan elektron bebas.

Plasma dikurung di ruang vakum menggunakan medan magnet berbentuk cincin karena tidak ada material Bumi yang tahan panas tersebut.

Energi fusi melonjak sebanding dengan kuadrat kepadatan plasma, namun plasma cenderung tidak stabil saat mendekati batas Greenwald.

Eksperimen EAST membuktikan plasma dapat stabil pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali lebih tinggi dari batas Greenwald.

>>> Kenaikan Harga Memori Ubah Peta Persaingan Chipset Smartphone Global

Kolaborasi Ilmuwan dan Lahirnya Teori PWSO

Tim peneliti dari Institute of Plasma Physics (ASIPP) di bawah Chinese Academy of Sciences menerapkan beberapa metode untuk menjaga stabilitas tepi plasma.