Pemerintah China mempercepat pengembangan proyek hilirisasi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia pada Jumat (12/6/2026).

Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah jatuhnya harga komoditas batu bara di pasar internasional.

>>> Piala Dunia 2026 Resmi Dimulai di Stadion Azteca Meksiko

Harga batu bara Newcastle untuk kontrak Juni 2026 turun US$ 2,85 menjadi US$ 148,9 per ton.

Kontrak Juli dan Agustus juga merosot ke level US$ 145 dan US$ 143,5 per ton.

Di pasar Rotterdam, harga kontrak Juni 2026 turun US$ 1,75 menjadi US$ 131 per ton.

Kontrak Juli jatuh ke US$ 121,6 per ton dan kontrak Agustus ke US$ 122,1 per ton.

Inner Mongolia Jadi Pusat Konversi Batu Bara

Inner Mongolia ditetapkan sebagai pusat pembangunan basis terbesar China untuk mengonversi batu bara. Daerah ini merupakan penghasil batu bara dan energi terbarukan terbesar di negara tersebut.

Rencana perluasan kapasitas konversi energi disampaikan dalam konferensi pers pada Kamis (11/6/2026). Pemerintah daerah fokus mendongkrak kemandirian pasokan bahan bakar domestik.

>>> Ancelotti Siapkan Raphinha Jadi Penyerang Sayap Kanan Brasil

"Kami meningkatkan kapasitas produksi proyek batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia guna meningkatkan swasembada minyak dan gas dalam negeri," ujar Huang, wakil pejabat tertinggi Inner Mongolia.

Huang tidak merinci strategi mitigasi emisi karbon tinggi dari proses konversi. Sektor hilirisasi ini baru menggantikan sekitar 6% dari total impor minyak mentah dan gas China pada 2024.

Meski menghadapi tantangan lingkungan, ekspansi terus berjalan.

Kementerian Lingkungan Hidup China telah menyetujui proyek percontohan batu bara menjadi olefin senilai 22,1 miliar yuan di Kota Ordos pada Mei lalu.

Produksi batu bara Inner Mongolia saat ini berkisar 1,25 miliar hingga 1,28 miliar ton per tahun.

>>> Kemenag Buka Seleksi Terbuka Enam Jabatan Eselon II

Dua pertiga pasokannya berasal dari Kota Ordos.