Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah menyiapkan nota kesepahaman untuk mengakhiri konfrontasi militer dengan membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz pada Sabtu (13/6/2026).

Rencana penghentian ketegangan bersenjata tersebut berpotensi ditandatangani dalam waktu dekat demi memulihkan stabilitas ekonomi global serta meredam lonjakan harga komoditas energi dunia.

>>> Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia Usai IPO SpaceX Melonjak

Draf proposal perundingan menguraikan komitmen Washington untuk melepaskan pembekuan aset Teheran senilai miliaran dolar sekaligus mencabut sanksi embargo perdagangan minyak mentah secara bertahap.

Sebagai kompensasi timbal balik, pihak militer Iran diwajibkan membuka akses navigasi internasional di Selat Hormuz yang sempat diblokade total pasca-serangan sekutu pada Februari lalu.

Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz

Pejabat Iran, Araqchi, menyatakan bahwa Iran adalah pemenang perang dengan AS.

Ia menjelaskan bahwa pengawasan lalu lintas maritim di wilayah selat tersebut akan tetap dioperasikan di bawah kendali penuh otoritas pertahanan Iran bersama dengan kesultanan Oman.

"Pedang kami akan selalu menggantung di atas Selat Hormuz," ujar Araqchi di televisi pemerintah seperti dilansir Reuters, Sabtu (13/6/2026).

Terkait persediaan material nuklir yang menjadi topik perselisihan, pihak Teheran menolak opsi penghancuran total dan memilih metode pengenceran kadar kemurnian zat cair tersebut.

"Bagi Teheran, satu-satunya solusi yang disukai untuk persediaan uranium yang sangat diperkaya adalah dengan mengurangi kadar uranium tersebut," kata Araqchi.

>>> Barcelona Resmi Rekrut Anthony Gordon, Siap Berebut Penalti dengan Yamal

AS Terapkan Kesepakatan Berbasis Kinerja

Pemerintah AS menyatakan kesepakatan ini berbasis pemenuhan kinerja nyata, di mana pelepasan dana finansial hanya dilakukan setelah Iran merampungkan seluruh kewajiban poin perjanjian.