Memasuki usia empat bulan, bayi mengalami lompatan perkembangan fisik dan kognitif yang signifikan. Perubahan ini sering memicu pergeseran pola tidur yang dapat mengganggu jadwal harian yang sudah terbentuk.

Kondisi yang dikenal sebagai regresi tidur ini membuat durasi istirahat anak berkurang dan tidak sepanjang saat mereka baru lahir.

>>> Kemenperin Gandeng PT Festo Perkuat Kompetensi Pendidik Vokasi

Kebiasaan tidur yang semula teratur bisa mendadak bergeser dari waktu biasanya.

Dilansir dari HaiBunda, situasi tersebut merupakan hal yang normal dan bersifat sementara sehingga orang tua tidak perlu panik.

Langkah-langkah tertentu dapat diterapkan untuk membantu anak kembali beristirahat dengan nyenyak.

"Bayi sering mengalami periode pertumbuhan pesat yang singkat yang disebut 'lonjakan pertumbuhan,' tetapi hal itu tidak selalu berkaitan dengan regresi tidur usia 4 bulan," kata Liz Donner, M.

D. , seorang dokter spesialis anak dan anggota Dewan Penasihat BabyCenter.

"Saya memandang regresi tidur usia 4 bulan sebagai efek samping dari perkembangan otak yang normal," ungkapnya dikutip dari BabyCenter.

Kebutuhan Tidur Bayi 4 Bulan

Bayi yang menginjak usia empat bulan memerlukan total waktu tidur sekitar 12–16 jam dalam sehari, di mana durasi ini sudah mencakup sesi tidur siang.

Perkembangan pesat pada organ otak dan tubuh, serta pembentukan jaringan saraf, memicu ketidakstabilan pada pola istirahat mereka.

Berdasarkan data Sleep Foundation, pola tersebut mulai menunjukkan kestabilan sewaktu anak menginjak umur 3 hingga 4 bulan.

Pada fase ini, mereka mulai beristirahat dengan durasi yang lebih lama dalam satu waktu.

Meskipun anak masih sering tidur siang beberapa kali, sesi istirahat malam mereka cenderung menjadi lebih panjang dengan total jam tidur harian yang lebih sedikit.