Di balik skuad Australia yang bersiap menghadapi Turkiye pada laga perdana Piala Dunia 2026, terdapat kisah perjuangan yang melampaui sepak bola.

Tiga pemain lini depan Socceroos, Mohamed Toure, Nestory Irankunda, dan Awer Mabil, memiliki latar belakang yang sama.

>>> UFC Gelar Laga Freedom 250 di Halaman Gedung Putih

Mereka adalah anak-anak pengungsi yang lahir atau tumbuh di kamp pengungsian setelah keluarga mereka melarikan diri dari konflik di Afrika.

Kini, mereka tidak hanya menjadi simbol keberagaman Australia modern, melainkan juga harapan utama tim untuk mencetak gol dan membawa Socceroos melangkah jauh di turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.

Kepercayaan Pelatih kepada Pemain Muda

Sementara itu, Awer Mabil yang berusia 30 tahun hadir sebagai sosok senior dan mentor bagi kedua pemain muda tersebut pada penampilan keduanya di ajang Piala Dunia.

>>> Bank Jakarta Hadirkan Engagement Store di Jakarta Fair 2026 untuk Dorong Layanan Digital

Ketiga pemain itu tumbuh melalui jalur yang hampir serupa.

Mereka merupakan anak-anak pencari suaka yang kemudian berkembang melalui sistem sepak bola Australia, khususnya di Adelaide, ibu kota Negara Bagian Australia Selatan yang selama ini tidak terlalu dikenal sebagai pusat penghasil talenta sepak bola.

Mohamed Toure, yang kini berusia 22 tahun, lahir di kamp pengungsi di Guinea setelah kedua orangtuanya melarikan diri dari perang di Liberia.

>>> PT Bayan Resources Tbk Bagikan Dividen Tunai US$500 Juta

Bagi Toure, membela Australia di Piala Dunia memiliki makna yang sangat mendalam.