Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menghilangkan jutaan pekerjaan terus menjadi perdebatan di berbagai sektor. Banyak pihak cemas otomatisasi akan menggantikan peran manusia di lingkungan kerja.

Namun, CEO OpenAI Sam Altman membantah pandangan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa fakta di lapangan justru menunjukkan situasi sebaliknya.

>>> vivo X Fold6 Hadir dengan Dimensity 9500 Super Edition dan AI File Manager

Dalam wawancara dengan CNBC, Altman menegaskan bahwa perusahaan yang sukses mengintegrasikan AI justru aktif menambah staf. Strategi pemanfaatan teknologi berjalan beriringan dengan perluasan tim operasional.

"Perusahaan yang paling banyak mengadopsi AI juga merupakan perusahaan yang paling banyak merekrut karyawan," kata Altman, dikutip dari Times of India.

Altman menilai bahwa korporasi yang menjadikan AI sebagai alasan PHK belum tentu menerapkan teknologi tersebut secara masif. Langkah itu dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

"Perusahaan yang berbicara tentang PHK karena AI justru merupakan perusahaan yang paling sedikit mengadopsi AI," ujarnya.

Altman bahkan menduga bahwa isu perkembangan teknologi kerap dijadikan dalih yang nyaman oleh manajemen untuk membenarkan keputusan pengurangan pegawai di mata publik.

Keterbatasan Sistem Otomatisasi

Altman menjelaskan bahwa kapabilitas AI saat ini sangat efisien untuk tugas-tugas spesifik, seperti pemrograman. Namun, teknologi ini masih kesulitan menangani proyek kompleks yang memerlukan supervisi jangka panjang.

"Saya rasa saya meremehkan betapa tidak meratanya kemampuan model-model ini.

Mereka melakukan beberapa hal dengan sangat baik, tapi tidak mampu mengawasi tugas kompleks jangka panjang dengan baik," jelasnya.

>>> Derrick Michael Xzavierro Resmi Gabung Saga Ballooners di B.League Premier Jepang

Ia mencontohkan platform pembantu pemrograman Codex milik OpenAI. Performa terbaik justru tercipta saat AI diposisikan sebagai instrumen penyokong keahlian pekerja, bukan pengganti mandiri.