Pemerintah saat ini membutuhkan likuiditas masif untuk mewujudkan janji kampanye dan program prioritas. Namun, mereka tetap terikat pada disiplin defisit APBN yang ketat.

Hal itu disampaikan oleh Ariawan kepada Kontan. co.

>>> Investasi Reksadana USD Tetap Menarik di Tengah Suku Bunga Global Tinggi

id, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, secara teori rasio pendapatan negara merupakan hasil dari kemampuan pemerintah melakukan ekstraksi fiskal dibandingkan kapasitas output ekonomi nasional.

Untuk mencapai target minimal 12,01%, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi organik.

Otoritas fiskal harus meningkatkan tax buoyancy, yaitu kemampuan penerimaan negara tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Tiga Sumber Utama Penerimaan Negara 2027

Ariawan menjelaskan terdapat tiga sumber utama yang akan menopang peningkatan pendapatan negara pada 2027. Pertama, penerimaan perpajakan melalui implementasi penuh sistem Coretax menjelang 2027.

Sistem tersebut diharapkan mampu memperluas basis pajak dengan integrasi data dari berbagai pihak.

Efektivitasnya akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah memetakan potensi wajib pajak baru, termasuk aktivitas ekonomi yang belum terjangkau administrasi perpajakan.

Kedua, sektor kepabeanan dan cukai. Ariawan menilai komponen ini akan menjadi sumber tambahan penerimaan yang penting untuk mencapai target rasio pendapatan negara.

Pemerintah diperkirakan akan mulai menjalankan kebijakan Cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) dan cukai plastik yang selama ini belum terealisasi.

Pajak karbon juga diperkirakan memasuki tahap implementasi yang lebih luas setelah sebelumnya masih terbatas pada uji coba.

Ketiga, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), khususnya dari sektor sumber daya alam (SDA) dan kekayaan negara dipisahkan (KND).

>>> Pancasakti Group Gelar Ajang Lari Jelang IPO Tahun 2029

Menurut Ariawan, pemerintah menghadapi tantangan karena harga komoditas global mulai normalisasi setelah periode lonjakan.