Produk domestik bruto (PDB) Inggris mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada April 2026.

Penurunan ini terjadi setelah pertumbuhan solid di awal tahun, dipicu oleh lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.

>>> Investasi Apartemen: Tantangan Unit Kosong dan Beban Biaya Operasional

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu jalur pelayaran pasokan minyak dan gas dunia.

Kondisi ini berbalik dari pertumbuhan 0,3 persen pada Maret, berdasarkan data Office for National Statistics (ONS).

Perlambatan utamanya berasal dari sektor jasa yang turun 0,2 persen, terutama pada administrasi, seni, hiburan, dan rekreasi.

Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 0,1 persen berkat perbaikan bangunan, meski pekerjaan baru turun 0,3 persen.

Dampak Konflik dan Respons Pemerintah

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menyatakan bahwa kondisi ekonomi negara sebenarnya cukup kuat sebelum konflik. Pertumbuhan melampaui perkiraan dan inflasi menurun, namun dampak perang kini mulai terasa.

"Ini bukan perang yang kami inginkan ataupun kami ikuti, tetapi dampaknya akan dirasakan di dalam negeri," ujar Reeves.

>>> Ekonom Prediksi Rupiah Berpotensi Menguat ke Level Rp17.000 per Dolar

Kebijakan fiskal pemerintah disebut membuat negara lebih siap menghadapi kenaikan biaya akibat perang.

Meskipun dalam periode tiga bulan hingga April ekonomi Inggris masih tumbuh 0,7 persen, data terbaru memperkuat kekhawatiran kontraksi pada kuartal II-2026.

Kenaikan tarif energi diproyeksikan menekan daya beli masyarakat dan biaya operasional usaha.

Ekonom National Institute of Economic and Social Research (NIESR), Fergus Jimenez-England, menilai dampak kenaikan harga energi akan lebih terasa pada kuartal III ketika batas atas tarif energi kembali naik.

Sejumlah lembaga riset telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris tahun ini.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi dan pasar tenaga kerja Inggris pekan depan.

>>> Manchester United Incar Lewis Hall dari Newcastle United

Data tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank of England dalam menetapkan arah kebijakan suku bunga di tengah tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.