Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpotensi menguat kembali ke area Rp17.000 per dolar AS apabila sejumlah sentimen positif global dan domestik muncul secara bersamaan.

Ekonom Josua Pardede menjelaskan bahwa penguatan mata uang Garuda tersebut didorong oleh faktor penurunan harga minyak dunia, kejelasan kebijakan suku bunga AS, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

>>> Manchester United Incar Lewis Hall dari Newcastle United

Stabilitas cadangan devisa dan disiplin fiskal pemerintah yang lebih kuat juga menjadi faktor pendukung utama.

Namun, tekanan terhadap mata uang nasional dapat meningkat apabila harga minyak kembali melonjak, arus modal asing keluar, dan cadangan devisa turun signifikan.

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya kekhawatiran baru terkait kondisi APBN dan arah kebijakan ekonomi nasional.

"Rupiah dapat kembali melemah ke atas Rp 18.500 per dolar AS apabila risiko-risiko tersebut meningkat," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Strategi Diversifikasi Portofolio

Di tengah fluktuasi nilai tukar ini, strategi diversifikasi portofolio dinilai lebih tepat untuk bertahan menghadapi berbagai skenario pasar dibandingkan menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset.

Dolar AS dan emas tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai, sementara instrumen pasar uang rupiah seperti deposito bank besar dan reksa dana pasar uang menawarkan likuiditas tinggi dengan imbal hasil kompetitif setelah kenaikan suku bunga Bank Indonesia.

>>> 30 Kata-Kata Spanduk Tahun Baru Islam 1448 H yang Inspiratif

Bagi investor moderat dengan jangka waktu enam hingga 12 bulan, disarankan mengalokasikan 40% pada instrumen pasar uang rupiah, 20% pada dolar AS, 15% pada emas, 15% pada SBN tenor pendek-menengah, serta 10% pada kas atau saham defensif.