Ikan lele dan ikan kembung merupakan dua lauk yang sering menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Keduanya mudah ditemukan dan harganya relatif terjangkau.

Meski sama-sama kaya protein, kandungan gizi keduanya tidak sepenuhnya sama. Perbedaan kadar omega-3, vitamin, dan risiko paparan polutan membuat masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan.

>>> KAI Commuter Pertebal Pengamanan Stasiun Antisipasi Demo Mahasiswa di Jakarta

Perbandingan Gizi dan Keamanan

Ikan kembung dikenal kaya omega-3, vitamin D, dan vitamin B12. Kandungan merkurinya relatif rendah sehingga baik untuk kesehatan jantung dan perkembangan otak.

Sementara itu, lele menawarkan protein tinggi tetapi omega-3 lebih sedikit. Tingkat keamanannya bergantung pada kualitas air dan pakan selama budidaya.

Lemak lele cenderung lebih tinggi dengan komposisi yang kurang ideal jika dikonsumsi terlalu sering. Lele hidup di air tawar dan sering berada di dasar perairan.

Dalam budidaya yang kurang baik, lele bisa terpapar polutan dari air dan pakan. Lele dari kolam bersih relatif aman, tetapi dari lingkungan tercemar berisiko membawa zat berbahaya.

>>> BGN Evaluasi Insentif Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis Rp6 Juta per Hari

Sebaliknya, ikan kembung adalah ikan laut kecil dengan usia pendek dan berada di rantai makanan bawah. Karakter ini membuat kadar merkurinya rendah dan lebih stabil.

Karena itu, ikan kembung sering direkomendasikan sebagai pilihan aman untuk dikonsumsi rutin, termasuk bagi anak-anak dan ibu hamil.

Perlu diingat, merkuri tidak bisa dihilangkan dengan cara memasak. Kunci utamanya adalah memilih jenis ikan yang tepat, bukan cara mengolahnya.

Singkatnya, lele tetap layak menjadi lauk harian karena murah dan tinggi protein.

>>> Budi Gadai Pertahankan Bunga Gadai meski BI Rate Naik

Namun, jika mempertimbangkan omega-3, vitamin, dan risiko polutan yang lebih rendah, ikan kembung lebih unggul untuk konsumsi jangka panjang.