DPR Minta APBN 2027 Lindungi Daya Beli Kelas Menengah
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mendesak agar kebijakan fiskal dalam APBN 2027 mampu menjaga kekuatan ekonomi domestik.
Langkah ini dinilai krusial untuk melindungi kelompok kelas menengah yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
>>> BEI Hentikan Perdagangan Efek pada 16 Juni 2026
Menurut Misbakhun, tekanan ekonomi saat ini tidak hanya dirasakan kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai melanda kalangan kelas menengah.
Banyak keluarga kelas menengah menghadapi situasi sulit dengan pengeluaran yang bertambah, cicilan yang tetap berjalan, dan biaya pendidikan yang naik.
"Banyak keluarga kelas menengah hari ini menghadapi situasi yang tidak mudah.
Pengeluaran bertambah, cicilan tetap berjalan, biaya pendidikan naik, sementara mereka juga harus memikirkan tabungan dan masa depan keluarganya," kata Misbakhun di Jakarta pada Jumat (12/6/2026).
Orientasi Pertumbuhan Ekonomi 2027
Misbakhun menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi 2027 harus diarahkan pada penciptaan lapangan kerja yang lebih baik. Kebijakan tersebut juga harus memperkuat dunia usaha dan mempertahankan daya beli publik.
Kelompok kelas menengah memegang peran strategis dalam menggerakkan perekonomian saat mereka memiliki kepercayaan untuk berbelanja, membeli properti, atau berinvestasi.
>>> IHSG Anjlok 30%, Valuasi Murah Bisa Jadi Peluang Investor
Sebaliknya, penundaan keputusan ekonomi oleh kelompok ini akan langsung memukul sektor usaha dan pasar tenaga kerja.
"Menjaga kelas menengah bukan semata-mata soal membantu satu kelompok masyarakat. Ini juga soal menjaga mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bergerak," ujar Misbakhun.
Pemerintah dan DPR sebelumnya telah menyepakati target rasio pendapatan negara pada kisaran 12,01 persen hingga 12,40 persen terhadap PDB.
Kesepakatan ini tercapai dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.
Misbakhun mengingatkan agar perluasan basis penerimaan negara dan reformasi fiskal tidak menambah beban masyarakat yang selama ini patuh membayar pajak.
>>> Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol Divonis 30 Tahun Penjara
"Jangan sampai kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak utama ekonomi domestik justru semakin terbebani. Reformasi fiskal harus dilakukan dengan prinsip keadilan dan mendorong pertumbuhan," pungkasnya.
Update Terbaru
Komisi XI Masih Menunggu Penugasan Bamus untuk Uji Kelayakan Calon Gubernur BI
Senin / 27-07-2026, 20:28 WIB
Longsor di Morowali Utara: 2.104 Jiwa Terisolir, Akses Jalan Putus
Senin / 27-07-2026, 20:28 WIB
Kuwait dan Bahrain Kirim Jet Tempur Serang Target di Iran
Senin / 27-07-2026, 20:28 WIB
Ayah dan Anak Tewas di Palu, Istri Kritis Akibat Pembunuhan
Senin / 27-07-2026, 20:28 WIB
Pemusnahan 312 Ton MBM Berporcine, Tiga Lembaga Negara Tindak Tegas Pelanggaran Halal
Senin / 27-07-2026, 20:21 WIB
Bantuan Top-up Gaji PNS: Mendagri Minta Pemda Efisien Dulu
Senin / 27-07-2026, 20:21 WIB
Pemukim Israel Serang Desa di Tepi Barat, Bakar Dua Masjid dan Rumah Warga
Senin / 27-07-2026, 20:21 WIB
Vietnam Sembunyikan 'Badai Bola Mati' untuk Hadapi Indonesia di Piala AFF 2026
Senin / 27-07-2026, 20:21 WIB
Truk Trailer Tabrak Rumah Warga di Pasuruan, Tiga Tewas dan Dua Luka Berat
Senin / 27-07-2026, 20:14 WIB
Etomidate: Bareskrim Bekuk Kasat Narkoba Tangsel dan 5 Anggota
Senin / 27-07-2026, 20:14 WIB
Gaikindo Bantah Tudingan Hambat Transisi Mobil Listrik di Indonesia
Senin / 27-07-2026, 20:14 WIB
Eks Sekutu Tantang Netanyahu di Pemilu Israel, Elektabilitas Unggul
Senin / 27-07-2026, 20:14 WIB
Ahmad Luthfi Luncurkan Satgas PHK dan Turunkan Tarif Trans Jateng untuk Buruh
Senin / 27-07-2026, 20:07 WIB
Prabowo Panggil KSSK Bahas Ekonomi Usai Perry Warjiyo Mundur dari BI
Senin / 27-07-2026, 20:07 WIB







