Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol Divonis 30 Tahun Penjara
Pengadilan Distrik Pusat Seoul menjatuhkan hukuman 30 tahun penjara kepada mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol pada Jumat (12/6/2026).
Ia terbukti memerintahkan penerbangan drone militer ke wilayah Korea Utara demi memicu krisis keamanan.
>>> Toyota Kijang Innova Reborn Masih Laris, Penjualan Hampir Salip Innova Zenix
Operasi pesawat tak berawak itu merupakan bagian dari rencana rahasia untuk membenarkan deklarasi darurat militer yang mengguncang negara pada 2024.
Majelis hakim menyatakan bahwa tindakan memprovokasi Pyongyang sengaja dilakukan untuk menghentikan jalannya pemerintahan sipil.
Penyalahgunaan Wewenang Militer
Hakim menegaskan bahwa wewenang presiden atas komando angkatan bersenjata seharusnya digunakan untuk melindungi keamanan nasional, bukan demi keuntungan politik pribadi.
Tindakan Yoon dinilai telah menyalahgunakan kapabilitas militer Korea Selatan untuk kepentingan kekuasaan individunya.
Di sisi lain, mantan kepala negara tersebut bersikeras menolak seluruh tuduhan dan menyatakan bahwa langkah politiknya saat itu murni demi menyelamatkan negara.
>>> Kemenhaj Pulangkan 66.137 Jemaah dan Petugas Haji Indonesia
"Demi kepentingan negara," kata Yoon Suk-yeol.
Tim penasihat hukumnya menambahkan argumen bahwa pengiriman drone tersebut merupakan langkah balasan atas aksi pengiriman balon pembawa sampah dari Korea Utara yang melintasi perbatasan.
Putusan ini dijatuhkan ketika Yoon tengah mendekam di tahanan untuk menjalani proses banding atas kasus lain.
Sebelumnya, ia telah menerima vonis hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan memimpin aksi pemberontakan melalui deklarasi darurat militer pada Desember 2024.
Langkah kontroversial tersebut memicu gelombang protes massal, melumpuhkan pasar keuangan, hingga berujung pada pemakzulan dirinya dari kursi kepresidenan.
>>> Triumph Tiger 900 Alpine Edition Resmi Meluncur di Indonesia, Harga Rp 725 Juta
Kepemimpinan Korea Selatan saat ini telah beralih kepada Presiden Lee Jae-myung yang terpilih setelah fase instabilitas politik selama berbulan-bulan.
Update Terbaru
ENHYPEN dan 'Dark Moon' Sapa Penggemar di San Diego Comic-Con 2026
Senin / 27-07-2026, 21:07 WIB
Festival Fanomenon 2027 Targetkan 500.000 Pengunjung, Jadikan Korea Ibu Kota Fandom Global
Senin / 27-07-2026, 21:07 WIB
Drama 'Agent Kim Reactivated' Raih Rating 23%, Tertinggi Kedua SBS
Senin / 27-07-2026, 21:07 WIB
Pemerintah Korea Batasi Gaji Aktor, Industri Film Masih Ragu
Senin / 27-07-2026, 21:07 WIB
Kontroversi Waterbomb Festival: Penampilan Seksi Dinilai Lebih Menonjol dari Musik
Senin / 27-07-2026, 21:00 WIB
BMW X5 L dan iX5 L Meluncur di China, Kabin Mewah dengan Layar 8K
Senin / 27-07-2026, 21:00 WIB
Pemilik Zeekr 9X Terkunci 30 Jam Usai Tinggalkan China, Ini Penyebabnya
Senin / 27-07-2026, 21:00 WIB
Suzuki Brezza Facelift Hadir dengan Mesin Turbo 1.0 Lebih Bertenaga, Harga Mulai Rp120 Jutaan
Senin / 27-07-2026, 21:00 WIB
Olmo Tolak Maaf Ayala: Tak Perlu Minta Maaf Jika Tak Akui Perbuatan
Senin / 27-07-2026, 20:56 WIB
Proses Penunjukan Gubernur BI Definitif Tunggu Mekanisme UU, Ini Kata Pjs
Senin / 27-07-2026, 20:56 WIB
Kaesang Siap Maju Caleg dari Dapil Solo, Siap Bersaing dengan Puan Maharani
Senin / 27-07-2026, 20:56 WIB
Pendekatan MDT dan PET-CT Jadi Kunci Penanganan Kanker Payudara yang Tepat Sasaran
Senin / 27-07-2026, 20:56 WIB
297 Atlet Muda Bertanding di Kejurnas Angkat Besi Pupuk Indonesia 2026
Senin / 27-07-2026, 20:49 WIB
Penembakan di Festival Bite of Seattle Tewaskan Dua Orang, Empat Luka-luka
Senin / 27-07-2026, 20:49 WIB







