Bank Dunia memastikan kesiapan pendanaan darurat bagi wilayah yang membutuhkan intervensi likuiditas segera.

"Kami siap dengan pembiayaan tambahan, jaminan, dan solusi sektor swasta jika tekanan semakin dalam," ujar Banga.

Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, melihat adanya peluang akselerasi pertumbuhan melalui perdagangan regional, revolusi energi bersih, dan kecerdasan buatan (AI).

Namun, pemanfaatan AI saat ini masih timpang.

Kurang dari seperempat pusat data berlokasi di negara berkembang. "Kecuali kesenjangan ini ditutup, revolusi AI bisa memperlebar kesenjangan antara negara kaya dan miskin," tegas Gill.

Laporan tersebut juga menggarisbawahi tantangan utang pemerintah di negara berkembang. Utang melonjak dari 40 persen PDB pada 2010 menjadi 70 persen PDB saat ini.

Berdasarkan riset Development Finance International, negara berkembang dalam G77 menghabiskan hingga 8 triliun dolar AS per tahun.

>>> OJK Catat Pembiayaan Kendaraan Listrik Tembus Rp23,39 Triliun per April 2026

Jumlah itu setara 35 persen dari total pengeluaran pemerintah hanya untuk membayar bunga utang.