Ketidakpastian tersebut terbukti saat rumah bersejarah milik sahabatnya hancur rata dengan tanah akibat serangan mendadak pada Minggu (7/6/2026).

"Tidak ada peringatan, tapi untungnya tidak ada orang di sana," kata Lily.

Sahabatnya yang merupakan mantan relawan Palang Merah dilaporkan sedang bersiap pindah ke Prancis saat rumahnya hancur.

"Dia sangat terpukul," kata Lily.

Warga sipil setempat terus mempertanyakan alasan penghancuran fasilitas non-militer di kawasan yang berdekatan dengan situs warisan dunia UNESCO itu.

"Kami semua terpukul. Dan kami mempertanyakan, kenapa.

Karena tidak ada target militer di sana. Kecuali kalau kucing sekarang dianggap sebagai target militer," ungkapnya.

Tanggapan Militer dan Analis

Mantan kepala divisi riset militer Israel memberikan tanggapan mengenai pergeseran strategi militer negaranya yang dinilai mulai mengendalikan wilayah Lebanon di luar zona aman awal.

"Jarak yang ingin dicapai militer di Lebanon, dan yang telah disetujui pemerintah, adalah sekitar 10 kilometer dari perbatasan—agar komunitas kami di sisi selatan perbatasan terlindung dari tembakan langsung rudal anti-tank," kata Kuperwasser kepada DW.

Meskipun demikian, ia tidak menampik adanya dinamika internal terkait perluasan wilayah operasi militer akibat intensitas serangan dari Lebanon.

>>> Goodyear Indonesia Minta Percepatan Sertifikasi SNI Pabrik di Jerman, Turki, dan China

"Kami membayar harga mahal akibat serangan drone hampir setiap hari, dan ada korban jiwa, jadi itu mungkin memengaruhi perdebatan," katanya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan operasional tersebut masih berpotensi berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

"Tapi sejauh yang saya tahu, belum ada keputusan baru untuk melampaui garis kuning," tambah Kuperwasser.

Sementara itu, lembaga analisis internasional melihat pergerakan Israel ini sebagai momentum pemanfaatan konjungtur politik global untuk mengubah konformasi wilayah perbatasan.