"Menurut saya, inti dari apa yang sedang terjadi sekarang adalah bahwa mereka (Israel) merasa memiliki kebebasan bertindak," kata H.A.

Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute for Defense and Security Studies di London dan Center for American Progress.

Hellyer menilai kebebasan bertindak ini dimanfaatkan secara optimal sebelum adanya transisi kebijakan di pemerintahan Amerika Serikat.

"Namun, mereka tahu kebebasan bertindak ini tidak akan bertahan selamanya, tidak di bawah pemerintahan Trump, dan tentu tidak di bawah siapapun setelahnya.

Jadi, saya pikir mereka memanfaatkan momen ini untuk menarik garis-garis baru, menciptakan zona-zona keamanan semacam itu," ungkapnya.

Ia merujuk pada rekam jejak sejarah di mana zona keamanan yang dibentuk Israel kerap berujung pada penguasaan wilayah secara permanen.

"Ini adalah bagian dari apa yang saya sebut sebagai supremasi Israel," jelas Hellyer.

Menurut analisanya, relasi kuasa internasional ini membuat hukum dan aturan normatif global tidak lagi menjadi hambatan bagi tindakan militer Israel.

"Intinya mereka yang memegang kendali penuh, mereka bisa melakukan apa yang mereka mau, tidak ada yang bisa berkata tidak, dan hukum serta aturan tidak lagi berlaku," pungkas Hellyer.

Ketegangan geopolitik ini kian meluas setelah Pemerintah Amerika Serikat ikut memberikan proyeksi politiknya pasca-kesepakatan penghentian serangan antara Iran dan Israel sejak April lalu.

"Kami adalah tim yang sangat tangguh, saya pikir kami memenangkan pertarungan itu, tetapi kita benar-benar akan memenangkannya dalam deux minggu ke depan ketika kami menyatakan kemenangan total," kata Trump seperti dikutip Anadolu Agency.

Pernyataan tersebut diiringi dengan proyeksi penurunan harga minyak mentah global dalam waktu dekat.

"Ini akan menjadi kemenangan total. Ini akan segera terjadi, dan harga minyak akan turun," imbuhnya.