Meskipun hanya mencakup sekitar 4% dari total pasar valuta asing global yang bernilai US$ 10 triliun per hari, dampaknya sangat besar bagi kawasan yang membatasi konvertibilitas mata uang.

>>> Pemadaman Listrik Ganggu Produksi Konveksi Kecil di Pulau Jawa

Otoritas di Asia telah lama berupaya mengurangi pengaruh pasar luar negeri tersebut.

India mendorong aktivitas NDF ke pusat keuangan GIFT City, Korea Selatan membuka pasar valas untuk investor asing serta memperpanjang jam perdagangan, dan Thailand memperluas akses lindung nilai bagi korporasi non-residen.

Namun, dalam situasi krisis saat ini, bank sentral di berbagai negara justru kembali aktif melakukan intervensi langsung di pasar offshore.

Langkah ini turut menekan pertahanan cadangan devisa masing-masing negara.

Bank Sentral India disebut sebagai pihak yang paling agresif melakukan intervensi dengan menjual dolar dalam tenor jangka pendek.

Posisi short dolar bank sentral India diperkirakan telah mencapai kisaran US$ 115 miliar, sementara Bank Indonesia juga dilaporkan melakukan penjualan dolar di pasar luar negeri untuk menstabilkan rupiah.

Sebagian investor berpandangan bahwa penurunan nilai mata uang ini lebih dipicu oleh faktor domestik, seperti aliran modal keluar dan kecemasan terhadap prospek ekonomi lokal.

India mengalami aksi jual besar-besaran oleh asing di pasar saham, sedangkan Indonesia menghadapi kekhawatiran di sektor fiskal.

Filipina mengalami dampak negatif akibat lonjakan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia.

Di sisi lain, Korea Selatan mencatat volatilitas keluar masuk modal asing yang sangat signifikan pada pasar saham mereka.

Para ekonom memproyeksikan bank sentral di Asia tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat demi membentengi pasar.

>>> Pemerintah Kirim 200 Pemuda Desa ke Jepang untuk Belajar dan Tingkatkan Keterampilan

Kebijakan tersebut mencakup potensi kenaikan suku bunga lanjutan di India, Filipina, dan Indonesia untuk meredam gejolak valuta asing yang masih berlangsung.