Otoritas moneter di sejumlah negara Asia, termasuk Korea Selatan, India, Filipina, dan Indonesia, memperketat pengawasan terhadap spekulasi valuta asing di pasar offshore.

Langkah ini diambil untuk meredam volatilitas yang semakin sulit dikendalikan akibat eskalasi ketegangan geopolitik, seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

>>> IHSG 9 Juni 2026 Ditutup Melemah ke Level 5.896

Tekanan geopolitik tersebut memperburuk beban ekonomi bagi negara-negara importir energi di kawasan Asia.

Nilai tukar rupiah sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, sementara won Korea Selatan merosot ke level terlemah sejak krisis keuangan global.

Rupee India dan peso Filipina juga menyentuh rekor terendah baru akibat pelemahan yang berlanjut. Kementerian Keuangan Korea Selatan mengumumkan peningkatan pengawasan terhadap instrumen derivatif valuta asing offshore.

Otoritas Filipina meminta perbankan memastikan transaksi non-deliverable forward (NDF) hanya digunakan untuk kebutuhan ekonomi riil, bukan spekulasi.

Bank sentral India memperketat batas posisi devisa bersih perbankan hingga maksimal US$ 100 juta.

Indonesia mengambil langkah ketat dengan menaikkan suku bunga secara tak terduga pada awal pekan ini.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk aktif di pasar valuta asing di seluruh dunia demi menopang stabilitas rupiah.

Langkah Intervensi dan Dampaknya

Para analis menilai bahwa kebijakan pembatasan transaksi di pasar offshore tidak akan cukup untuk membalikkan tren pelemahan mata uang tanpa adanya perbaikan fundamental.

"Langkah ini mungkin berdampak, tetapi pada akhirnya diperlukan perubahan fundamental ekonomi agar berhasil," ujar Michael Wan, analis mata uang senior MUFG Bank Ltd.

Pasar NDF diperkirakan masih memainkan peran penting di Asia karena menjadi wadah spekulasi dan lindung nilai investor di luar pasar domestik.