Fabby melihat kejadian ini sebagai momentum untuk mengevaluasi ketahanan sistem kelistrikan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan dari pertumbuhan industri dan pusat data.

Ketergantungan pada sistem yang didominasi batu bara dan bersifat terpusat dinilai merupakan ancaman serius bagi keamanan pasokan energi.

"Terlambatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan di RUPTL, pembatasan PLTS Atap sejak 2021 lalu berkontribusi pada meningkatnya risiko ini," imbuhnya.

Ia menilai sistem kelistrikan Indonesia akan terus mengalami kerentanan apabila tetap didominasi oleh bahan bakar fosil dan tersentralisasi.

Sebagai solusi jangka pendek, Fabby mendorong pemanfaatan PLTS Atap yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi (BESS) untuk meningkatkan ketahanan pasokan listrik di tingkat pelanggan.

Kementerian ESDM diminta segera memperbarui ketentuan Permen ESDM No. 2/2024 tentang PLTS Atap demi mempermudah konsumen.

>>> System Shift: Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia ala Prof. Raymond

Langkah relaksasi pada sektor PLTS Atap dan BESS dipercaya dapat mempercepat penambahan daya listrik serta mengurangi beban listrik yang selama ini harus dipasok oleh PLN.