Umat Islam bersiap menjalankan puasa sunnah Tasua dan Asyura setiap bulan Muharram tiba. Dua hari istimewa pada 9 dan 10 Muharram ini dikenal memiliki keutamaan besar.

Namun, muncul pertanyaan mengenai hukum melaksanakan puasa Tasua dan Asyura bagi seseorang yang masih memiliki utang puasa Ramadan.

>>> Kemenkop Usulkan Tambahan Anggaran Rp1,34 Triliun untuk Tahun 2027

Persoalan ini menyangkut prioritas antara ibadah wajib dan sunnah dalam Islam.

Keutamaan Puasa Asyura dan Tasua

Puasa Asyura menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Keutamaan ibadah ini ditegaskan dalam sebuah hadis.

Rasulullah bersabda: "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu."

Sementara itu, puasa Tasua pada 9 Muharram dianjurkan sebagai pembeda dari tradisi puasa kaum Yahudi. Kaum Yahudi diketahui juga melaksanakan puasa pada 10 Muharram.

Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa kedua puasa ini memiliki dasar kuat dari Rasulullah SAW.

Dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, ia menyebut tingkat kesunnahan puasa Asyura termasuk yang paling utama setelah puasa Arafah.

Kewajiban Mengqadha Puasa Ramadan

Islam memberikan perhatian besar terhadap puasa Ramadan yang ditinggalkan karena uzur tertentu. Kewajiban mengganti puasa ini didasarkan pada firman Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 184: "Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, maka wajib mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain."

Kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq menjelaskan qadha puasa Ramadan harus ditunaikan sebelum Ramadan berikutnya tiba. Kecuali, terdapat uzur yang terus berlangsung pada orang tersebut.

Sebagai ibadah wajib, qadha puasa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada ibadah sunnah. Hal ini memicu perdebatan mengenai pendahuluannya dari puasa sunnah Muharram.