Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,8% hingga 6,5% pada 2027.

Target ini tercantum dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027.

>>> Indofood Buka Program IRN 2026-2027 untuk Pendanaan Riset Mahasiswa

Target tersebut merupakan bagian dari upaya mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Namun, ekonom menilai angka 6,5% terlalu optimistis untuk dijadikan asumsi utama perencanaan tahun depan.

Tantangan Mencapai Target

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, rekam jejak pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5% dalam beberapa tahun terakhir.

Setelah tumbuh 5,31% pada 2022, laju pertumbuhan turun menjadi 5,05% pada 2023 dan 5,03% pada 2024, sebelum naik tipis ke 5,11% pada 2025.

Menurut Yusuf, untuk mencapai 6,5% diperlukan tambahan sekitar 1,4 poin persentase. Lompatan sebesar itu tidak bisa terjadi hanya karena siklus ekonomi yang membaik.

“Dibutuhkan sumber pertumbuhan baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata,” kata Yusuf ketika dihubungi, Kamis (11/6/2026).

Ia menjelaskan, struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB.

Sementara itu, pertumbuhan produktivitas belum menunjukkan percepatan signifikan.

Kinerja ekonomi yang lebih tinggi belakangan ini juga sebagian ditopang oleh kenaikan belanja pemerintah. Namun, ruang fiskal justru dijaga lebih ketat dengan target defisit yang relatif rendah.

Kondisi global juga tidak sepenuhnya mendukung.

Ketidakpastian geopolitik masih tinggi, harga komoditas tidak lagi menikmati momentum boom, dan tekanan eksternal terlihat dari pelemahan cadangan devisa serta asumsi nilai tukar rupiah yang masih tinggi.

“Dalam situasi ini, mengandalkan ekspor atau arus modal asing untuk menutup selisih pertumbuhan menuju 6,5% menjadi langkah yang cukup berisiko,” ungkap Yusuf.