"Ini merupakan sinyal positif karena menunjukkan pulihnya persepsi atau kepercayaan investor terhadap prospek kinerja saham di Indonesia," ujarnya.

Yosua memberikan perhatian khusus pada performa saham BBCA yang melonjak 9,71 persen pada Rabu setelah sebelumnya tumbuh 6,19 persen.

Ia juga mencatat penurunan tekanan jual asing di pasar reguler menjadi Rp 36 miliar.

"Saat IHSG rebound setelah mengalami tekanan jual yang ekstrem, maka wajar jika investor institusi akan berbondong-bondong masuk ke saham blue chip yang salah harga.

Saham perbankan seperti BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI menjadi salah satu pilihan utama karena memiliki kinerja keuangan yang sangat baik, fundamental kuat, dan konsisten membagi dividen," jelas Yosua.

Lebih lanjut, Yosua memproyeksikan fluktuasi IHSG ke depan masih akan tinggi. Lonjakan indeks belum disertai masuknya aliran modal asing, sehingga rawan memicu aksi ambil untung oleh investor.

"Tapi tekanannya tidak akan seberat pekan-pekan sebelumnya seiring tingginya komitmen otoritas fiskal dan moneter dalam memperbaiki keadaan.

BI sudah menaikkan suku bunga acuan dua kali berturut-turut untuk menjaga nilai tukar, sementara pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi untuk mengurangi tekanan fiskal.

Pemerintah juga sudah menyampaikan informasi yang lebih jelas terkait peran BUMN ekspor dalam konteks ekspor SDA strategis," kata Yosua.

Optimisme terhadap prospek pergerakan indeks ke depan diyakini akan bangkit seiring perbaikan kebijakan serta komunikasi positif antara otoritas moneter dengan para pelaku pasar.

>>> Krisis BBM Melanda Rusia Akibat Serangan Drone Ukraina

"Jika wonderful company ini valuasinya sudah kelewat murah, salah harga, investor pasti berebut beli. Yang penting, situasi makronya terjaga baik," pungkas Yosua.