Innī āmantu birabbikum fasma'ūn. "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu.

Maka, dengarkanlah (pengakuan)-ku."

Qīladkhulil-jannah, qāla yā laita qaumī ya'lamūn. "Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga'.

Dia (laki-laki itu) berkata, 'Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui'."

Bimā gafara lī rabbī wa ja'alanī minal-mukramīn. "(bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan."

>>> BFriends Hadirkan Konsep Wellness Terintegrasi Pertama di Kerobokan Bali

Wa mā anzalnā 'alā qaumihī mim ba'dihī min jundim minas-samā'i wa mā kunnā munzilīn.

"Setelah dia (dibunuh), Kami tidak menurunkan satu pasukan pun dari langit kepada kaumnya dan Kami tidak perlu menurunkannya."

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa'iżā hum khāmidūn. "(Azab mereka) itu cukup dengan satu teriakan saja.

Maka, seketika itu mereka mati."

Yā ḥasratan 'alal-'ibād, mā ya'tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi'ūn. "Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu.

Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya."

Alam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurūni annahum ilaihim lā yarji'ūn. "Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan.

Mereka (setelah binasa) tidak ada yang kembali kepada mereka (di dunia)."

Wa in kullul lammā jamī'ul ladainā muḥḍarūn. "Tidak ada satu (umat) pun, kecuali semuanya akan dihadirkan kepada Kami (untuk dihisab)."

Wa āyatul lahumul-arḍul-maitah, aḥyaināhā wa akhrajnā minhā ḥabban faminhu ya'kulūn.

"Suatu tanda (kekuasaan-Nya) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus lalu) Kami menghidupkannya dan mengeluarkan darinya biji-bijian kemudian dari (biji-bijian) itu mereka makan."

Wa ja'alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a'nāb, wa fajjarnā fīhā minal-'uyūn.

"Kami (juga) menjadikan padanya (bumi) kebun-kebun kurma dan anggur serta Kami memancarkan padanya beberapa mata air."