Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Pelemahan dipicu oleh koreksi di seluruh sektor saham.

Volume transaksi tercatat mencapai 22,2 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,7 triliun.

>>> Huawei Uji Coba Smartphone Flagship Layar Lebar Non-Lipat

Sektor bahan baku memimpin koreksi dengan penurunan 6,27 persen. Disusul sektor energi yang merosot 3,17 persen dan sektor transportasi yang melemah 2,94 persen.

Penurunan ini berdampak pada sejumlah saham top losers LQ45. Saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 14,18 persen ke Rp 1.785.

Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 11,64 persen menjadi Rp 645.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga melemah 9,66 persen ke posisi Rp 1.590.

Di sisi lain, beberapa saham berhasil menguat. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 3,56 persen ke Rp 2.910.

Saham PT Indosat Tbk (ISAT) menguat 1,93 persen menjadi Rp 1.850. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 1,67 persen ke Rp 1.215.

>>> Sinar Mas Land Bangun Dairyland, Destinasi Wisata Peternakan di BSD City

Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa Asia.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1 persen, sedangkan bursa Taiwan dan Jepang merosot masing-masing 1,5 persen.

Sentimen Global dan Geopolitik

Sentimen negatif berasal dari Wall Street yang terkoreksi tajam setelah data inflasi AS pada Mei meningkat pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Faktor lain adalah meningkatnya risiko geopolitik setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap target di Iran. Presiden Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan jika kesepakatan damai tidak tercapai.

Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis distribusi energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 1,6 persen ke US$ 94,55 per barel.

>>> Penjualan Eceran April 2025 Ambles 11,6 Persen, BI Sebut Faktor Musiman

Kombinasi kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.