Meskipun terdapat tantangan berupa fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian pasar global akibat situasi geopolitik, perseroan tetap mencatatkan hasil positif pada awal tahun.

Pada kuartal I/2026, laba bersih CBUT tumbuh 9,76 persen secara tahunan menjadi Rp45 miliar dari sebelumnya Rp41 miliar.

"Penurunan tipis penjualan pada kuartal I/2026 lebih disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas global dan ketidakpastian pasar akibat situasi geopolitik.

Namun, efisiensi operasional yang ketat dan fokus kami pada produk hilir bernilai tambah tinggi membuat margin laba usaha tumbuh 19,02% menjadi Rp89 miliar," ujar Ronny Hertantyo Raharjo, Direktur CBUT.

Di sisi lain, pendapatan pada tiga bulan pertama tahun 2026 terkoreksi tipis 0,53 persen menjadi Rp3,38 triliun.

>>> Tapa Bisu Jadi Tradisi Malam 1 Suro, Ini Makna dan Tata Caranya

Manajemen mengandalkan optimalisasi produk bernilai tambah tinggi dan penguatan prinsip keberlanjutan (ESG) guna mempertahankan penetrasi pasar internasional global.