Tapa Bisu Jadi Tradisi Malam 1 Suro, Ini Makna dan Tata Caranya

Malam 1 Suro selalu memiliki tempat khusus dalam tradisi masyarakat Jawa. Pada momentum pergantian tahun dalam kalender Jawa itu, sebagian warga menjalankan laku spiritual yang dikenal sebagai Tapa Bisu.

Tradisi ini dilakukan dengan menjaga keheningan dan menahan diri untuk tidak berbicara selama rangkaian ritual berlangsung. Dalam pandangan budaya Jawa, praktik tersebut menjadi sarana untuk menata batin sekaligus melakukan perenungan diri.

Makna Tapa Bisu dalam Tradisi Jawa

Istilah "tapa" merujuk pada laku prihatin atau pengendalian diri, sedangkan "bisu" berarti tidak berbicara. Kedua unsur itu berpadu menjadi sebuah ritual yang menekankan kesadaran diri melalui keheningan.

Peserta menjalani prosesi tanpa percakapan sebagai bentuk latihan mengendalikan emosi, menahan keinginan, dan mengurangi gangguan pikiran. Keheningan dipandang sebagai ruang untuk mendengarkan suara hati serta mengevaluasi perjalanan hidup.

Tapa Bisu juga kerap dihubungkan dengan harapan akan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan pada tahun yang akan dijalani.

>>> Wembanyama Gagal di Tembakan Bebas, Knicks Menang 107-106

Bagian dari Ritual Mubeng Beteng

Tradisi ini paling dikenal melalui kegiatan Mubeng Beteng yang digelar di lingkungan Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta setiap malam 1 Suro.

Dalam prosesi tersebut, ribuan peserta berjalan kaki mengelilingi benteng keraton. Seluruh perjalanan dilakukan dalam suasana hening tanpa percakapan. Banyak peserta juga memilih berjalan tanpa alas kaki sebagai simbol kerendahan hati dan kedekatan manusia dengan bumi.

Sejarah Pelaksanaan Tapa Bisu

Catatan sejarah menyebutkan ritual serupa pernah dilaksanakan di lingkungan Keraton Yogyakarta pada 1919. Saat itu, kegiatan tersebut dikaitkan dengan upaya memohon perlindungan dari wabah penyakit yang tengah melanda.