Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan program biodiesel B50 akan menghemat devisa Indonesia sekitar Rp170 triliun atau setara US$10,8 miliar sepanjang 2026.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa program ini memberikan manfaat ekonomi nyata sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

>>> Nvidia Optimalkan 50.000 Chip Terbaru untuk Ekosistem AI 2026

"Program B50 memberikan manfaat ekonomi nyata bagi negara. Diproyeksikan menghemat devisa sekitar Rp170 triliun sepanjang 2026," ujar Anggia dalam pernyataan yang dikutip ANTARA.

Menurut Anggia, penghematan besar ini penting untuk membiayai pembangunan nasional dan melindungi ekonomi dari fluktuasi harga minyak global.

Dampak Ekonomi dan Ketenagakerjaan

Program B50 juga diproyeksikan menciptakan hingga 2,1 juta lapangan kerja baru di seluruh Indonesia.

Di bawah campuran B50, setengah dari setiap liter solar yang dikonsumsi berasal dari tanaman yang ditanam dan dipanen oleh petani lokal.

>>> Victoria Beckham Mesra dengan Romeo di Peluncuran Parfum, Brooklyn Absen

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengumumkan bahwa Indonesia akan menghentikan impor solar mulai Juli 2026 setelah berhasil mengembangkan B50 berbasis kelapa sawit.

"Kami telah berhasil menjadi negara pertama di dunia yang memproduksi B50. Mulai Juli ini, kami tidak akan lagi mengimpor solar dari luar negeri," kata Prabowo.

Manfaat Iklim dan Lingkungan

Selain dampak ekonomi, mandat B50 menjadi pilar pencapaian target iklim Indonesia.

Kementerian ESDM memproyeksikan peralihan ke biodiesel akan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 sepanjang 2026.

>>> Piala Liga Indonesia Kembali Bergulir Setelah Tujuh Tahun Vakum

Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mampu memproduksi campuran solar dengan 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit.