Status protektorat ini tidak mengubah kawasan menjadi daerah jajahan Barat. Inggris justru memberikan dukungan militer dan politik kepada Ibnu Saud untuk mempersatukan Jazirah Arab.

>>> 7 Lokasi SPKLU PLN di Medan untuk Isi Daya Mobil Listrik

Lahirnya Kerajaan dan Penemuan Minyak

Ibnu Saud memanfaatkan persaingan geopolitik internasional secara cerdik melalui aliansi suku, pertempuran, dan negosiasi. Ia berhasil mengintegrasikan Najd, Hijaz, Al-Ahsa, dan kawasan lainnya.

Puncaknya terjadi pada 23 September 1932 saat Ibnu Saud mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Penggabungan Najd dan Hijaz menjadi satu negara utuh diperingati sebagai Hari Nasional.

Pada masa awal, perekonomian kerajaan masih bergantung pada haji, umrah, perdagangan, dan bea cukai.

Untuk mengatasi tantangan ekonomi, Ibnu Saud membuka peluang eksplorasi minyak dengan Standard Oil Company of California.

Penemuan cadangan minyak dalam jumlah masif mengubah peta ekonomi dunia abad ke-20. Sektor energi ini mentransformasi Arab Saudi menjadi salah satu kekuatan ekonomi global.

Sikap Netral dan Identitas Nasional

Kedaulatan Arab Saudi juga terjaga berkat kebijakan luar negeri yang hati-hati. Negara ini memilih netral selama Perang Dunia II, sehingga terhindar dari pendudukan militer asing.

Menjelang akhir perang, Arab Saudi mendekat ke pihak Sekutu dan membangun kemitraan strategis dengan Amerika Serikat. Hubungan ini memberikan jaminan keamanan dan memperkuat industri energi domestik.

Sentimen historis masyarakat terhadap dominasi asing sangat kuat. Warga memandang perlindungan kedaulatan sebagai bagian krusial dari identitas nasional.

>>> Jennifer Coppen Gelar Pengajian Jelang Pernikahan dengan Justin Hubner, Tampil Anggun dengan Kebaya Modern

Pengalaman Arab Saudi berbeda dengan wilayah lain di Timur Tengah seperti Iran dan Afghanistan. Arab Saudi lebih sukses menjaga stabilitas politik internal sejak pembentukan kerajaan modern.