Peluang pengembangan konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik dinilai masih sangat besar di Indonesia.

Keunggulan dari sisi perawatan serta ketersediaan suku cadang basis kendaraan konvensional yang melimpah menjadi faktor pendorong utama.

>>> Penjualan Sepeda Motor Nasional Turun 7,9 Persen pada Mei 2026

Kondisi pasar otomotif tanah air yang didominasi oleh pabrikan Jepang mempermudah para pemilik kendaraan untuk memperoleh suku cadang nonkelistrikan dengan cepat.

Hal tersebut membedakan motor konversi dengan beberapa tipe motor listrik murni yang masih mengandalkan komponen-komponen khusus.

"Motor Jepang yang kita pakai kan seperti itu. Motor-motor Jepang di Indonesia punya ketersediaan spare part yang melimpah.

Mulai dari body part sampai perintilan yang sulit dicari sekalipun," kata Abdul, Pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut penjelasannya, jaringan suku cadang pabrikan Jepang yang telah terbentuk selama puluhan tahun memberikan keuntungan besar karena memangkas waktu tunggu pengadaan komponen yang rusak.

Masalah kelangkaan komponen nonkelistrikan ini sering kali menjadi kendala tersendiri bagi tipe kendaraan listrik murni tertentu.

"Kalau di motor listrik, komponen yang susah dicari bisa sampai satu bulan," kata Abdul.

Proses pencarian suku cadang untuk motor konvensional yang populer di masyarakat dinilai jauh lebih efisien dan tidak memakan waktu lama.

"Tapi kalau di motor-motor Jepang, seperti Honda, Yamaha, Kawasaki, dan lain-lain, sesulit apa pun biasanya paling lama seminggu sudah ketemu suku cadangnya," kata Abdul.

Langkah konversi ini juga dipandang sebagai strategi efektif untuk mempercepat adopsi teknologi kendaraan ramah lingkungan tanpa menuntut masyarakat membeli unit kendaraan baru.

>>> Prabowo Tetap Pakai Pindad Maung Meski Bocor Demi Nasionalisme