Meski demikian, penataan sistem pengelolaan baterai yang berkelanjutan dinilai menjadi aspek krusial yang harus segera dibenahi oleh pihak-pihak terkait.

"Jadi, kalau konversi sebenarnya bagus untuk dijalankan. Tapi, sistem baterainya itu jangan dilepas begitu saja.

Saat ini kan sudah dikasih baterai, lalu terserah pengguna mau diapakan baterainya," kata Abdullah, Pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat.

Guna mengatasi persoalan tersebut, penyediaan infrastruktur disarankan mengombinasikan dua metode pengisian daya sekaligus untuk melayani profil kebutuhan konsumen yang berbeda.

"Kalau konversi, saran saya tetap pakai dua sistem, yaitu swap dan baterai tanam," kata Abdul.

Penerapan sistem tukar atau swap dianggap lebih ideal untuk motor berkubikasi kecil yang digunakan demi mendukung mobilitas harian berjarak dekat.

"Swap itu untuk cc (kubikasi) kecil yang tidak membutuhkan kecepatan tinggi atau tenaga besar," kata Abdul.

Sementara itu, bagi kendaraan dengan kapasitas mesin di atas 150 cc, sistem pengisian daya langsung dinilai lebih mampu mengakomodasi performa dan jarak tempuh.

"Sementara baterai tanam seperti yang digunakan Polytron diperuntukkan bagi motor-motor besar, yang kapasitas mesinnya 150 cc ke atas," kata Abdul.

Penerapan skema pengisian daya langsung atau charging pada tipe baterai tanam berkapasitas besar ini diprediksi mampu merangsang pertumbuhan ekosistem konversi secara jangka panjang.

>>> Baterai Mobil Listrik Berisiko Rusak Akibat Tekanan Air Banjir

"Motor tersebut diberikan baterai berkapasitas besar dan bukan tipe swappable, melainkan menggunakan sistem charging. Dengan begitu, ekosistem konversi akan tumbuh," kata Abdul.