Saham Teknologi Seret Bursa Asia Memerah Akibat Lonjakan Inflasi AS
Bursa saham Asia mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (11/6/2026) akibat aksi jual saham teknologi global.
Sentimen negatif dipicu lonjakan inflasi Amerika Serikat yang melampaui prediksi pasar.
>>> ITB Buka Pendaftaran Jalur Mandiri SSU Tes Tulis 2026 hingga 14 Juni
Kondisi pasar kian tertekan oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah militer AS menggempur sejumlah titik di Iran pada Rabu (10/6) malam.
Pemerintah Iran merespons dengan memblokir Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak mentah Brent naik 2 persen ke US$ 94,93 per barel.
Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,9 persen, dengan tekanan terdalam pada KOSPI Korea Selatan yang merosot 3 persen.
Kontrak berjangka S&P 500 juga melemah 0,3 persen, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap aset berisiko.
Analis menilai koreksi saham teknologi Asia terjadi karena investor meragukan prospek pertumbuhan laba emiten.
Strategis Kuantitatif Asia Bernstein, Rupal Agarwal, mengatakan valuasi saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan sudah terlampau tinggi.
"Harapan pasar terhadap pertumbuhan laba sudah sangat optimistis. Dengan valuasi yang mahal, saham-saham tersebut rentan terhadap koreksi lebih lanjut," tulis Agarwal.
>>> IHSG Melesat 2,71 Persen Didorong Kenaikan Saham BBCA dan TLKM
Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik berisiko mempercepat aksi ambil untung massal pada saham yang telah reli tinggi.
Pada sesi sebelumnya, S&P 500 turun 1,6 persen dan Nasdaq Composite terpangkas 2 persen setelah data inflasi AS Mei 2026 mencapai level tertinggi sejak April 2023.
Data inflasi yang memanas memperkuat proyeksi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Indeks dolar AS kokoh di 100,03, sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik 2,6 basis poin ke 4,564 persen.
Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 naik menjadi 51,6 persen dari sebelumnya 50,1 persen.
Pasar kripto juga tertekan: Bitcoin turun 0,5 persen ke US$ 61.445,19 dan Ether turun 0,6 persen ke US$ 1.619,04.
>>> AS Serang Reservoir Air Iran, Eskalasi Militer di Selat Hormuz Kembali Meningkat
Harga emas spot melemah 0,3 persen ke US$ 4.059,59 per ons troi akibat tekanan suku bunga tinggi dan lonjakan biaya energi.
Update Terbaru
FIFA Rilis Jadwal Piala Dunia 2026, Ajang Terbesar dalam Sejarah
Kamis / 11-06-2026, 10:00 WIB
Baca Killer Peter Chapter 135 Bahasa Indonesia Spoiler English raw, Mode Serius!
Kamis / 11-06-2026, 10:00 WIB
Polisi Meksiko Kerahkan 50.000 Personel Amankan Piala Dunia 2026 dari Demo Massa
Kamis / 11-06-2026, 09:57 WIB
67 Kode Redeem FF Max 11 Juni 2026: Jersey Bola dan Super Bundle Tersedia
Kamis / 11-06-2026, 09:57 WIB
Killer Bean Resmi Masuk Steam, Bawa Meme Biji Kopi ke Dunia Game
Kamis / 11-06-2026, 09:56 WIB
Kurs Mata Uang Asia Bergerak Terbatas pada 11 Juni 2026
Kamis / 11-06-2026, 09:56 WIB
Harga Emas Antam 11 Juni 2026 Turun Rp 24.000 Per Gram
Kamis / 11-06-2026, 09:56 WIB
Universitas BSI Buka Pendaftaran Kelas Karyawan Gelombang 4 hingga 2 Juli 2026
Kamis / 11-06-2026, 09:56 WIB
Harga BBM Non-Subsidi Naik per 10 Juni 2026, Pertamax Jadi Rp 16.250 per Liter
Kamis / 11-06-2026, 09:56 WIB
Kebiasaan Menahan Kencing Bisa Picu Kerusakan Kandung Kemih
Kamis / 11-06-2026, 09:52 WIB
Anak Paris Hilton Ingin Tinggal di Rumah Anjing Mewah California
Kamis / 11-06-2026, 09:51 WIB
Jadwal dan Tarif KRL Solo Jogja 11 Juni 2026 dari Palur ke Yogyakarta
Kamis / 11-06-2026, 09:51 WIB
Negara Teluk Matikan Transponder Kapal untuk Pasok Minyak Global
Kamis / 11-06-2026, 09:48 WIB
Jadwal Playoff MPL ID S17 11 Juni 2026: Geek Fam dan Bigetron Main
Kamis / 11-06-2026, 09:48 WIB






