Warga negara Indonesia (WNI) yang mengandalkan kendaraan pribadi seperti motor menghadapi ujian berat. Di tengah upah yang relatif kecil, harga bahan bakar dan suku cadang justru melonjak signifikan.

GDP per kapita Indonesia tahun lalu hanya US$ 4.900, jauh di bawah Thailand (US$ 7.300) dan Malaysia (US$ 12.600).

>>> Komponen Motor Listrik Paling Sering Rusak Menurut Bengkel

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,74 persen dengan rata-rata upah buruh Rp 3,3 juta per bulan.

Kenaikan Harga BBM dan Suku Cadang

Per 10 Juni 2026, harga BBM nonsubsidi Pertamina meroket.

Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada suku cadang seperti oli dan ban.

>>> MG S5 EV Resmi Meluncur di Indonesia, Sasar Pasar SUV Listrik Keluarga

Pemilik bengkel di Kranji, Bekasi Barat, mengatakan harga ban naik hingga 20 persen pada Mei lalu, sementara oli naik rata-rata Rp 20 ribu.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp 17.700 turut mendorong kenaikan harga suku cadang.

Kondisi ini semakin memberatkan warga yang aktivitasnya bergantung pada kendaraan pribadi.

Di sisi lain, transportasi umum belum sepenuhnya memadai, terutama bagi mereka yang tinggal atau bekerja di luar Jakarta.

>>> Prabowo Dorong Kemandirian Industri Otomotif Nasional, Pakai Mobil Maung Buatan Pindad

Hal ini membuat WNI semakin tertekan oleh biaya mobilitas yang terus meningkat.