Maybank Sekuritas Indonesia memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan terus mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate hingga mencapai level 6 persen dalam beberapa bulan ke depan.

Langkah agresif ini dinilai perlu untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

>>> Pemerintah Siapkan Skema Gaji dan Tunjangan PPPK Paruh Waktu 2026

Proyeksi tersebut muncul akibat berbagai tekanan pada aset Indonesia, seperti ketidakpastian regulasi, kekhawatiran fiskal, tingginya harga minyak dunia, dan menyempitnya surplus perdagangan.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia berkurang sekitar US$11 miliar menjadi US$144,9 miliar pada Mei 2026, mencatat penurunan selama lima bulan berturut-turut.

Tekanan inflasi juga diperkirakan melampaui target BI sebesar 1,5-3,5 persen untuk sementara waktu.

Kenaikan 50 bps hingga Akhir Tahun

Maybank IBG Economist Brian Lee menjelaskan bahwa Bank Indonesia tidak ingin hanya mengandalkan intervensi pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.

Oleh karena itu, analis memperkirakan masih ada tambahan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps hingga akhir 2026, yang akan membawa BI Rate ke level 6 persen.

Level tersebut hanya sedikit di bawah puncak suku bunga pascapandemi yang mencapai 6,25 persen.

Menurut Brian Lee, potensi pengetatan moneter yang lebih agresif masih terbuka lebar jika ketegangan geopolitik global belum mereda, terutama jika Selat Hormuz belum kembali dibuka hingga akhir Juni dan harga minyak dunia terus melonjak.

Untuk rapat BI pekan depan, skenario dasar yang diperkirakan pasar adalah kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.

>>> Telkomsel dan TVRI Sediakan Paket MAXStream TV untuk Piala Dunia 2026