Nilai tukar rupiah diprediksi melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.900 hingga Rp18.950.

>>> Dudung Abdurachman Bantah Terlibat Korupsi Makan Bergizi Gratis

Pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, rupiah ditutup menguat 114 poin ke level Rp17.944, setelah sebelumnya berada di Rp18.058.

Faktor Internal dan Eksternal

Penguatan rupiah didorong oleh kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.

Langkah ini disambut positif pelaku pasar karena bertujuan menstabilkan rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah.

>>> Harga BBM Nonsubsidi Pertamina, BP, dan Vivo Naik per 10 Juni 2026

Sentimen positif juga datang dari komitmen lembaga pengelola dana kekayaan negara Danantara yang tidak mengambil margin keuntungan dari ekspor komoditas strategis dan menghormati kontrak yang ada.

Di sisi eksternal, rupiah diperkirakan mampu bertahan meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih meningkat.

Lonjakan harga minyak mentah dunia sekitar 1% pada Rabu memicu kekhawatiran kenaikan biaya bahan bakar yang berpotensi mendorong inflasi global.

>>> Prabowo Resmikan RSUD Krui, Targetkan Obat Generik Murah dalam Setahun

Pelaku pasar juga mencermati data inflasi AS yang akan dirilis, dengan perkiraan inflasi konsumen tahunan naik menjadi 4,2% pada Mei, yang dapat memperkuat ekspektasi kebijakan ketat The Fed.