PT Astra International Tbk (ASII) mengubah strategi bisnisnya dengan lebih fokus pada penciptaan nilai ketimbang diversifikasi. Langkah ini diambil setelah kinerja keuangan perusahaan menurun pada kuartal I-2026.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, mencatat bahwa Astra kini menggeser portofolionya ke tiga mesin bisnis inti. Ketiganya adalah sektor otomotif, layanan pembiayaan, dan pertambangan.

>>> AS dan China Bersaing Cari Air di Bulan, Misi Chang'e-7 Lebih Dulu

Selain itu, manajemen Astra berencana meluncurkan program pembelian kembali saham secara berkelanjutan. Anggaran yang disiapkan mencapai Rp 8 triliun untuk jangka waktu 12 bulan ke depan.

Dalam hal ekspansi korporasi, manajemen bersikap lebih selektif untuk merger dan akuisisi. Pertimbangan utamanya adalah kesesuaian aset baru dengan ekosistem bisnis Astra yang sudah berjalan.

“Jika tidak, aset tersebut akan berdiri sendiri tetapi harus signifikan terhadap pendapatan, dengan pengembalian di atas tingkat ambang batas dan jalur menuju kendali,” ujar Igor dalam risetnya pada 26 Mei 2026.

Igor menilai perubahan ini secara struktural menggeser perilaku Astra. Menurutnya, Astra tidak akan mengeluarkan dana secara berlebihan, mengingat pertumbuhan yang terfokus pada pengembalian dan pertumbuhan pendapatan.

Astra juga memberikan sinyal mengenai kerangka alokasi kembali modal untuk aset yang nilai ekosistemnya terbatas, berkinerja buruk, serta tidak memiliki jalur pengendalian yang jelas.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan untuk melakukan divestasi aset.

CEO Astra Rudy mengonfirmasi bahwa rencana kompensasi berbasis saham selama tiga tahun akan memotivasi jajaran manajemen.

“Penurunan nilai saham Astra dapat dilindungi, mengingat komitmen pembelian kembali saham, misalnya mungkin Rp 2 triliun setiap kuartal,” kata Igor.

Prospek Kinerja dan Tantangan