Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, memproyeksikan prospek kinerja ASII pada kuartal III-2026 cenderung membaik secara bertahap.

Namun, fase pemulihan ini dinilai belum mengarah pada pertumbuhan yang agresif.

Kinerja pada kuartal pertama tahun ini menjadi basis yang cukup lemah.

Pendapatan konsolidasi Astra turun 6% secara tahunan menjadi Rp 78,7 triliun, sedangkan laba bersih merosot 16% menjadi Rp 5,9 triliun.

Tekanan terbesar bersumber dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi.

Sebaliknya, lini bisnis otomotif, layanan pembiayaan, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, hingga properti masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih.

Pemulihan kinerja ASII pada kuartal II dan III diprediksi akan bertumpu pada perbaikan pasar otomotif nasional.

Berdasarkan data kumulatif Januari hingga Mei 2026, penjualan mobil nasional tumbuh 12,8% secara tahunan menjadi 359.015 unit.

Volume penjualan kendaraan roda empat Astra pada April 2026 naik menjadi 41.800 unit atau melonjak 55% secara tahunan.

Capaian ini membuat pangsa pasar perusahaan kembali naik ke level 51,7%.

Meski demikian, secara kumulatif selama empat bulan pertama tahun 2026, pangsa pasar Astra berada di angka 49,5%.

Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 53,5%, sehingga risiko kompetisi pasar masih tetap ada.

>>> Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Ini Biaya Full Tank LSUV

“Segmen financial services masih berpotensi menjadi penopang yang stabil karena didukung ekosistem pembiayaan mobil dan motor Astra,” ujar Ester kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).

Laba segmen layanan pembiayaan Astra pada kuartal I-2026 naik 6% menjadi Rp 2,3 triliun.

Namun, Ester mengingatkan bahwa kenaikan BI Rate ke level 5,50% perlu diwaspadai karena berpotensi menahan laju pembiayaan.