Hingga kuartal III-2026, Astra masih dihadapkan pada beberapa tantangan utama. Faktor daya beli masyarakat dan suku bunga tinggi menjadi hambatan bagi permintaan kredit kendaraan.

Pelemahan nilai tukar rupiah berisiko membengkakkan biaya bahan baku, komponen impor, serta logistik.

Tantangan lain datang dari ketatnya persaingan pangsa pasar kendaraan roda empat, terutama akibat penetrasi produsen otomotif asal China dan tren kendaraan listrik.

Kondisi sektor alat berat dan pertambangan yang belum pasti juga menjadi ganjalan.

Pada kuartal pertama 2026, laba segmen ini merosot hingga 79% menjadi Rp 408 miliar akibat penurunan penjualan Komatsu sebesar 20%, penurunan pengupasan lapisan tanah oleh Pama sebesar 7%, serta anjloknya penjualan emas sebesar 93% akibat setop operasi sementara di tambang Martabe.

“Jadi, walaupun otomotif mulai membaik, pemulihan laba konsolidasi ASII tetap sangat bergantung pada normalisasi UNTR, Pama, Komatsu, dan Martabe,” terang Ester.

Proyeksi Laba dan Rekomendasi Saham

Analis Sucor Sekuritas, Christofer Kojongian, memperkirakan total laba bersih Astra sepanjang tahun 2026 akan sedikit terkoreksi 1% secara tahunan menjadi Rp 32,5 triliun.

Penurunan ini mencerminkan lemahnya kontribusi sektor komoditas dan rendahnya daya beli masyarakat.

“Ke depan, kami memproyeksikan CAGR pendapatan yang rendah sebesar 1% selama tiga tahun ke depan, karena ketidakpastian kebijakan di sektor komoditas, persaingan Tiongkok yang semakin ketat di sektor otomotif 4W dan alat berat, serta volume batubara domestik yang lebih rendah terus membatasi lintasan pertumbuhan PAMA,” jelas Christofer dalam risetnya pada 26 Mei 2026.

Secara keseluruhan, Christofer memproyeksikan pendapatan Astra tahun ini mencapai Rp 325,76 triliun dengan laba bersih Rp 32,52 triliun.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 Astra membukukan pendapatan Rp 323,39 triliun dan laba bersih Rp 32,76 triliun.

Terkait rekomendasi saham, Christofer menyarankan hold saham ASII dengan target harga Rp 5.900 per saham.

Sementara Igor memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 7.750 per saham.

Di sisi lain, Ester menyarankan trading buy dengan target harga di kisaran Rp 5.500 hingga Rp 5.700 per saham.

Rekomendasi ini diberikan dengan asumsi adanya dukungan dari perbaikan sentimen pasar keuangan ke depan.

Saat ini pergerakan saham ASII terpantau masih dalam fase tren menurun.

>>> Kenaikan Harga Pertamax Picu Risiko Inflasi dan Tekanan Daya Beli

Kendati demikian, peluang pembalikan arah teknikal mulai terbuka dari area support parallel channel seiring melemahnya momentum penurunan, meski aksi jual bersih oleh investor asing masih membayangi.