Persaingan antara Amerika Serikat dan China kini merambah ke luar angkasa. Kedua negara adidaya itu berlomba menemukan sumber air di Bulan.

NASA menjadwalkan pengiriman astronaut ke kutub selatan Bulan melalui program Artemis pada 2028.

>>> Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Ini Biaya Full Tank LSUV

Sementara itu, China bersiap meluncurkan misi tandingan bernama Chang'e-7 yang ditargetkan lepas landas pada 2026.

Misi Chang'e-7 akan menjadi langkah konkret pertama China dalam melacak keberadaan air langsung di permukaan Bulan.

Wilayah kutub selatan menjadi target utama karena dipercaya menyimpan cadangan es air yang melimpah di dalam kawah-kawah gelap.

Peluncuran Chang'e-7 diprediksi mendahului robot penjelajah VIPER milik NASA yang mengusung misi serupa pada akhir 2027.

Keberhasilan ini dapat memberikan keuntungan strategis bagi China dalam menguasai sumber daya penting di Bulan lebih awal.

Eksplorasi ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan misi Chang'e-6 tahun lalu.

Wahana tersebut mencatat sejarah setelah berhasil membawa pulang sampel tanah dari sisi jauh Bulan yang tidak pernah menghadap ke Bumi.

Para ilmuwan telah meyakini keberadaan es di kutub Bulan berdasarkan data teleskop luar angkasa terdahulu.

Fokus utama penjelajahan kini bergeser pada pencarian lokasi yang paling potensial untuk dieksploitasi manusia.

Cadangan air yang ditemukan nantinya bisa dikonversi menjadi air minum, pasokan oksigen, hingga hidrogen untuk bahan bakar roket.

>>> Kenaikan Harga Pertamax Picu Risiko Inflasi dan Tekanan Daya Beli

Ketersediaan logistik lokal ini akan menekan biaya operasional yang sangat mahal jika harus dikirim langsung dari Bumi.

Sumber air di Bulan sering dianalogikan sebagai logam mulia baru yang menentukan keberlanjutan koloni manusia di sana.