Investor kawakan Lo Kheng Hong masih mempertahankan kepemilikan saham dalam jumlah besar di PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).

Berdasarkan laporan per akhir Mei 2026, pria yang dijuluki Warren Buffett Indonesia ini berada di urutan kedelapan daftar pemegang saham terbesar PGAS.

>>> Kemendag Bahas Penurunan Anggaran 2027 Bersama Komisi VI DPR

Lo Kheng Hong tercatat menguasai 196,76 juta lembar saham PGAS. Jumlah tersebut setara dengan porsi kepemilikan sebesar 0,81%.

Langkah mempertahankan saham ini bertepatan dengan rencana PGAS yang bersiap membagikan dividen tunai tahun buku 2025.

Emiten gas pelat merah ini akan menebar dividen total senilai US$172,29 juta atau setara Rp125,60 per lembar saham.

Keputusan pembagian dividen telah mengantongi persetujuan pemegang saham melalui RUPST pada 22 Mei 2026.

Manajemen PGAS menetapkan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 4 Juni 2026. Ex dividen untuk kedua pasar tersebut jatuh pada 5 Juni 2026.

Untuk pasar tunai, cum dividen ditetapkan pada 8 Juni 2026 dan ex dividen pada 9 Juni 2026. Batas akhir pendaftaran pemegang saham (DPS) juga pada 8 Juni 2026.

>>> BPOM Ajukan Tambahan Anggaran Rp2,7 Triliun untuk Kawal Makan Bergizi Gratis

Pembayaran dividen tunai dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Nilai dividen ini merepresentasikan dividend payout ratio sebesar 80% dari total laba bersih perseroan.

Performa Keuangan dan Target Bisnis PGAS

Sepanjang tahun buku 2025, PGAS membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$215,36 juta.

Perolehan tersebut mengalami koreksi 36,55% secara year on year dibandingkan capaian 2024 yang mencapai US$339,43 juta.

Memasuki triwulan I 2026, laba bersih PGAS melesat naik 31,43% secara tahunan dari US$62,02 juta menjadi US$90,45 juta.

Dari sisi pengembangan usaha, PGAS telah menandatangani kontrak baru bersama INPEX Masela Ltd. Kerja sama ini untuk menyerap produksi LNG dan gas bumi dari proyek Abadi LNG di Blok Masela.

Kontrak strategis tersebut dijadwalkan memulai pengiriman perdana pada tahun 2033 dengan masa kontrak 15 tahun.

>>> Kortas Tipikor Polri Ungkap Korupsi PTPN XI Rugikan Negara Rp645 Miliar

Manajemen menetapkan target kinerja tahun ini dengan mempertahankan return on asset (ROA) pada level 6% dan return on invested capital (ROIC) sebesar 6,7%.