Nilai tukar rupiah melemah tipis pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 92 poin atau 0,51 persen ke level Rp17.965 per dolar AS.

>>> Mantan Pemulung Nasikhin Raih Gelar Doktor Cumlaude di UIN Walisongo

Sebelumnya, rupiah sempat menguat 149,50 poin ke posisi Rp17.908 per dolar AS pada pukul 09.01 WIB.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah indeks dolar AS menguat 0,04 persen ke level 99.946.

Faktor Domestik dan Eksternal

Kenaikan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen oleh Bank Indonesia menjadi faktor penopang pergerakan rupiah.

Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut sentimen eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan rencana rilis data inflasi AS menjadi tantangan berat bagi rupiah.

>>> Menkeu Purbaya: Dampak Kenaikan Harga Pertamax Minim

"Rupiah menguat karena reaksi dari dalam negeri," ujarnya.

Ibrahim menambahkan bahwa Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga hingga 200 basis poin hingga akhir tahun. Hal ini seiring langkah membantu pemerintah dalam lelang surat utang negara.

Kebijakan domestik lain yang memengaruhi kepercayaan pasar adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak. Pemerintah menaikkan harga pertamax untuk mengurangi beban subsidi.

Realisasi subsidi dan konversi BBM bersubsidi dari Januari hingga Mei 2026 mencapai Rp203,7 triliun, sementara pagu APBN sebesar Rp381,3 triliun.

Langkah ini dinilai positif karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak.

>>> 5 Big Match Fase Grup Piala Dunia 2026 yang Wajib Ditonton

"Artinya, 85 persen subsidi kemungkinan akan sedikit menyusut dan ini membuat pasar kembali percaya terhadap pemerintah," jelas Ibrahim.