Umat Islam di Indonesia menyambut bulan Muharram dengan berbagai kegiatan religius. Salah satu tradisi yang melekat adalah santunan kepada anak-anak yatim.

Kegiatan berbagi ini marak diselenggarakan oleh lembaga keagamaan, mushala, masjid, hingga organisasi kemasyarakatan. Puncaknya biasanya pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura.

>>> 8 Manga Terlaris di Dunia dengan Penjualan Ratusan Juta Kopi

Fenomena ini melahirkan istilah populer "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama". Tradisi ini mengakar karena nilai spiritual dan sejarah panjang dalam kebudayaan Islam.

Keistimewaan Bulan Muharram

Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang disucikan Allah SWT. Ketentuan ini tercantum dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36.

Tiga bulan mulia lainnya adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Umat Islam dianjurkan meningkatkan amal kebajikan dan menjauhi maksiat selama bulan-bulan ini.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif menegaskan Muharram sebagai pembuka tahun Hijriah yang menjadi momen terbaik untuk memperbanyak ibadah.

Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.

Keutamaan puasa di bulan ini disebutkan dalam hadis riwayat Muslim: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."

Keteladanan dari Perjalanan Hidup Rasulullah

Perhatian besar terhadap anak yatim tidak lepas dari kisah hidup Nabi Muhammad SAW.

Beliau dilahirkan dalam kondisi yatim karena sang ayah, Abdullah bin Abdul Muthalib, meninggal sebelum beliau lahir.

Nabi kemudian kehilangan ibunya, Siti Aminah, saat berusia enam tahun. Pengalaman ini membentuk karakter Nabi yang penuh empati terhadap kelompok lemah.

Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa latar belakang ini membentuk kepedulian Rasulullah kepada fakir miskin, janda, dan anak yatim.