Setidaknya ada 23 ayat dalam Al-Qur'an yang membahas hak-hak anak yatim, larangan menyalahgunakan harta mereka, hingga perintah memberikan kasih sayang.

Kedudukan dan Janji Kemuliaan dalam Syariat

Perlindungan terhadap anak yatim ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 220: "Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik."

Larangan bertindak semena-mena diperingatkan dalam Surah Ad-Dhuha ayat 9: "Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."

Tafsir Ibnu Katsir menguraikan bahwa ayat tersebut merupakan pesan moral agar senantiasa menyayangi orang lain. Janji kemuliaan di akhirat bagi pengasuh anak yatim termuat dalam hadis riwayat Bukhari.

Rasulullah SAW bersabda: "Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini." Beliau menunjukkan isyarat jari telunjuk dan jari tengah yang berdampingan.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berpendapat hadis ini mengonfirmasi tingginya derajat orang yang menjamin kehidupan dan pendidikan anak yatim.

>>> Kurs Rupiah 10 Juni 2026 Menguat ke Rp 17.908 per Dolar AS

Tinjauan Hukum dan Sejarah Hari Asyura

Mengenai dalil khusus santunan pada 10 Muharram, para ulama menjelaskan tidak ada hadis sahih yang secara spesifik memerintahkannya.

Namun, ada anjuran umum untuk memperluas amal kebaikan pada Hari Asyura.

Beberapa riwayat dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi menyebutkan keutamaan mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura.

Sebagian besar ahli hadis mengategorikannya sebagai hadis dhaif.

Kendati demikian, ulama memperbolehkan penggunaan hadis dhaif untuk memotivasi amal kebajikan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Hal ini mendorong kelestarian tradisi berbagi.

Hari Asyura juga memiliki nilai sejarah karena bertepatan dengan diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Firaun.