Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.01 WIB di pasar spot exchange, rupiah melonjak 149,50 poin atau setara 0,83 persen ke level Rp 17.908 per dolar AS.

>>> Chatib Basri dan Budi Gunadi Temui Prabowo di Tengah Isu Reshuffle

Penguatan ini melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya, di mana rupiah ditutup menguat 129 poin dan sempat menyentuh posisi Rp 18.058 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat tipis 0,09 persen ke posisi 99.996.

Kestabilan greenback terjadi setelah AS melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang mendorong investor memilih dolar AS sebagai aset aman karena ekonomi AS dinilai lebih tahan terhadap guncangan harga energi.

Sentimen global juga dipengaruhi oleh pelaku pasar yang menantikan rilis data inflasi AS, yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depan.

>>> John Herdman Isyaratkan Pemain Lokal Isi Skuad Piala AFF 2026

Akibat daya tarik dolar AS sebagai safe haven, beberapa mata uang utama dunia mengalami tekanan.

Nilai euro melemah 0,05 persen menjadi USD 1,1537, poundsterling Inggris terkoreksi 0,04 persen ke USD 1,337, dan yen Jepang turun 0,03 persen menjadi 160,38 per dolar AS.

Posisi yen Jepang terus berfluktuasi di sekitar level 160, yang kerap dianggap sebagai batas psikologis untuk intervensi resmi pemerintah setempat.

Langkah Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga kini telah diantisipasi secara luas oleh pelaku pasar global.

>>> Cara Membuat Bubur Sumsum Pandan yang Creamy untuk Sarapan

Analis pasar di IG, Tony Sycamore, menyatakan bahwa diperlukan komentar agresif dari Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang memberi sinyal percepatan kenaikan suku bunga berikutnya dari Desember ke September, dengan kemungkinan kenaikan ketiga sebelum akhir tahun.