Peristiwa ini menjadi alasan Rasulullah menjalankan puasa pada 10 Muharram.

Literatur sejarah Islam mencatat peristiwa besar lain pada hari tersebut, seperti diterimanya taubat Nabi Adam AS hingga berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS.

Keberkahan ini diekspresikan melalui penguatan aksi sosial.

Perkembangan Gerakan Filantropi di Indonesia

Di Indonesia, kegiatan santunan dikemas kreatif oleh lembaga filantropi, pesantren, dan majelis taklim.

Bantuan tidak terbatas pada uang tunai atau bahan pangan, tetapi juga perlengkapan sekolah, doa bersama, hingga lomba anak-anak.

KH Sholeh Darat dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah mengonfirmasi bahwa Hari Asyura merupakan momentum baik untuk memperbanyak sedekah.

Ulama Nahdlatul Ulama memandang tradisi ini sebagai implementasi akhlak Islam.

Sementara ulama Muhammadiyah mencatat bahwa tidak ada kewajiban syariat membatasi santunan hanya pada 10 Muharram, karena menyantuni anak yatim harus dilakukan sepanjang tahun.

Tradisi ini dinilai relevan menjawab tantangan ekonomi, pendidikan, dan psikologis anak yatim di era modern. Selain bantuan materi, kegiatan ini memberikan dukungan emosional.

Dari sisi edukasi, keterlibatan generasi muda dalam santunan dapat mengasah empati dan tanggung jawab sosial. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menerangkan bahwa menolong orang kesusahan dapat melembutkan hati.

>>> Chatib Basri dan Budi Gunadi Temui Prabowo di Tengah Isu Reshuffle

Bulan Muharram juga diisi dengan puasa sunnah Tasu'a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram. Momentum awal tahun Hijriah ini menjadi ajang introspeksi diri.