Harga emas dunia di pasar spot merosot tajam 1,92 persen ke level US$ 4.234,2 per troy ons pada perdagangan Senin (9/6/2026).

Penurunan tersebut menandai pelemahan tiga hari beruntun hingga mencapai titik terendah sejak Desember tahun lalu.

>>> Prospek Harga Emas dan Perak Dinilai Masih Cerah

Secara kumulatif, harga emas telah terpangkas 5,38 persen dalam tiga hari terakhir.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait jatuhnya helikopter militer AS di Oman.

Trump menuding Iran menembak jatuh helikopter Apache yang sedang berpatroli di Selat Hormuz, meski kedua pilot selamat.

Kekhawatiran investor terhadap kenaikan harga energi dan inflasi global pun meningkat.

Situasi ini menyulitkan bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter, bahkan Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan.

Suku bunga tinggi menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

>>> Harga BBM Pertamina di Jabodetabek Naik per 10 Juni 2026

Sejak konflik Timur Tengah memanas, harga emas telah ambruk 19 persen dan kini berada di bawah Moving Average 200.

Senior Commodity Strategist TD Securities, Ryan McKay, menyebut kekhawatiran inflasi, kenaikan suku bunga, dan penembusan MA-200 sebagai sentimen negatif.

Citigroup Inc memangkas target harga emas jangka pendek ke US$ 4.000 per troy ons untuk tiga bulan ke depan.

Meski tetap bullish dalam jangka panjang, Citigroup melihat risiko ekstrem dalam jangka pendek.

Secara teknikal, emas berada di zona bearish dengan RSI 14 hari di level 30 dan Stochastic RSI menyentuh nol, mengindikasikan kondisi oversold.

Kondisi ini membuka peluang technical rebound pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

>>> Alphabet Himpun Dana Saham Rekor 85 Miliar Dollar AS untuk AI

Pivot harga diproyeksikan di US$ 4.314 per troy ons, dengan resisten terdekat US$ 4.336 dan support terdekat US$ 4.230.