Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives Ambles
Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan signifikan pada Selasa (9/6/2026).
Kemerosotan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar ringgit, penurunan harga minyak nabati global, serta kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi lonjakan stok minyak sawit Malaysia periode Mei.
>>> Enam Katai Merah Diduga Telan Planet Berbatu Mereka, Terdeteksi Lewat Jejak Litium
Data penutupan BMD menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 merosot 51 Ringgit Malaysia menjadi 4.454 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak untuk Juli 2026 terpangkas 45 Ringgit Malaysia ke angka 4.494 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Agustus 2026 jatuh 47 Ringgit Malaysia menjadi 4.528 Ringgit Malaysia per ton.
Tren penurunan berlanjut pada kontrak CPO September 2026 yang anjlok 41 Ringgit Malaysia menjadi 4.566 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak Oktober 2026 juga melemah 35 Ringgit Malaysia menjadi 4.603 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak November 2026 turun 34 Ringgit Malaysia ke level 4.637 Ringgit Malaysia per ton.
Faktor Pendorong Penurunan
Berdasarkan data Tradingview, pergerakan harga CPO membalikkan penguatan yang terjadi sebelumnya akibat tekanan dari bursa Dalian di China dan bursa Chicago di Amerika Serikat.
Penurunan harga minyak mentah dunia turut mereduksi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, di tengah sikap berhati-hati pasar menanti laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
>>> Indosat dan Nokia Modernisasi Jaringan 5G dengan AI
Menurut laporan Reuters, pasar mengantisipasi adanya peningkatan stok minyak sawit Malaysia pada bulan Mei yang berisiko memperberat tekanan harga.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan survei kargo mencatat pengiriman ekspor minyak sawit Malaysia selama Mei menyusut antara 8,8% hingga 15,5% dibanding April.
Meskipun ekspor melemah, pemulihan moderat mulai terlihat dari permintaan India selaku importir terbesar dunia, walaupun volume pembeliannya masih di bawah rata-rata historis.
Penurunan harga komoditas ini juga tertahan oleh rilis data perdagangan China yang menunjukkan aktivitas ekspor-impor lebih kuat dari perkiraan pasar.
Langkah pengetatan pengawasan ekspor sejumlah komoditas strategis termasuk minyak sawit oleh Pemerintah Indonesia diprediksi ikut memengaruhi peta pasar.
>>> Harga Minyak Dunia Anjlok 3% ke Level Terendah Tujuh Pekan
Aturan teknis baru dari produsen terbesar dunia tersebut berpotensi mengalihkan sebagian permintaan global ke Malaysia dan menopang harga CPO dalam jangka pendek.
Update Terbaru
AI Fisik Jadi Tren Teknologi Terbesar di Computex 2026
Rabu / 10-06-2026, 07:16 WIB
Polri Perpanjang Larangan Penggunaan Sirene dan Lampu Strobo di Dalam Kota
Rabu / 10-06-2026, 07:16 WIB
Atletico Madrid Bantah Klaim Real Madrid soal Tawaran Julian Alvarez
Rabu / 10-06-2026, 07:16 WIB
Nanda Persada Ungkap Peran Ruben Onsu di Balik Karier Sarwendah
Rabu / 10-06-2026, 07:16 WIB
UIN Jakarta Buka Pendaftaran SPMB Mandiri Reguler 2026 via Ujian SSE
Rabu / 10-06-2026, 07:16 WIB
'Teach You a Lesson' Puncaki Chart Mingguan Netflix untuk Serial Non-Inggris
Rabu / 10-06-2026, 07:15 WIB
Serangan Udara AS ke Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia
Rabu / 10-06-2026, 07:15 WIB
China Sukses Lakukan Transplantasi Ginjal dan Hati Babi ke Manusia
Rabu / 10-06-2026, 07:15 WIB
PT Trimitra Trans Persada Bagikan Dividen Tunai Rp21 Per Saham
Rabu / 10-06-2026, 07:12 WIB
Harga Pertamax dan Pertamax Green Resmi Naik per 10 Juni 2026
Rabu / 10-06-2026, 07:10 WIB
Jaecoo dan Geely Gempur Dominasi Pabrikan Jepang di Pasar Mobil Indonesia Mei 2026
Rabu / 10-06-2026, 07:10 WIB
Rutin Minum Kopi Hitam Berikan Tiga Efek Perlindungan Organ Hati
Rabu / 10-06-2026, 07:10 WIB
Anggota Kongres AS Ingin Larang Mobil China, Termasuk yang Tidak Dijual di Amerika
Rabu / 10-06-2026, 07:08 WIB
Jaecoo dan Geely Tembus 10 Besar Pasar Mobil Indonesia Mei 2026
Rabu / 10-06-2026, 07:08 WIB






