Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 1,8 persen ke level US$ 4.286,40 per ons.

Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar yang mendorong investor mengambil sikap hindari risiko atau risk-off.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok Tiga Persen ke Level Terendah Tujuh Pekan

Sentimen negatif juga menekan indeks saham utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq pada Selasa (9/6) ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan dengan support di 5.200 dan resistance di 5.600.

Analis: Pasar Masih Gugup

Analis Senior RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan pelaku pasar saat ini cenderung hati-hati dan cukup gugup.

"Hampir seluruh pasar bergerak dalam mode risk-off, dan kondisi itu menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas," ujarnya.

Haberkorn menilai tekanan pada logam mulia masih akan berlanjut hingga ada kepastian mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.

"Emas dan perak masih berada dalam tekanan hingga pasar mendapatkan panduan yang lebih jelas dari The Fed," tambahnya.

Fokus pasar kini beralih pada data inflasi Mei setelah data ketenagakerjaan AS pekan lalu lebih kuat dari perkiraan.

Pemerintah AS akan mengumumkan Indeks Harga Konsumen pada Rabu (10/6) dan Indeks Harga Produsen pada Kamis (11/6) sebagai petunjuk suku bunga The Fed.

Analis Commerzbank memproyeksikan harga emas berpotensi turun lebih jauh jika inflasi AS kembali naik melebihi ekspektasi.

>>> Kuwait Mulai Tawarkan Penjualan Minyak Mentah ke Kilang Asia

Namun, kondisi itu juga bisa membuka peluang pemulihan pada akhir tahun jika The Fed tidak menaikkan suku bunga.