Kuwait mulai menawarkan penjualan minyak mentah secara langsung kepada sejumlah kilang di Asia untuk pertama kalinya sejak perang Iran berkecamuk.

Langkah ini menjadi indikasi terbaru mengenai meningkatnya kembali arus pengiriman minyak melalui kawasan Selat Hormuz.

>>> Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0 di SUGBK

Sedikitnya 4 juta barel minyak ekspor utama dari Kuwait ditawarkan kepada pihak kilang di China dan Korea Selatan.

Muatan tersebut diangkut menggunakan dua kapal tanker raksasa berjenis very large crude carrier.

Informasi mengenai transaksi ini diperoleh dari beberapa trader yang mengetahui langsung proses penawaran tersebut.

Penjualan ini menambah indikasi bahwa jalur pelayaran melalui Selat Hormuz mulai terbuka kembali seiring meningkatnya koordinasi perlindungan dari Amerika Serikat.

Meskipun jalur pelayaran mulai terbuka, risiko keamanan di kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda.

Sebagian besar kapal tanker memilih melintasi jalur perairan itu dengan mematikan transponder agar posisinya tidak terlacak dan terhindar dari target serangan.

Kuwait sebagai produsen minyak terbesar kelima di kawasan Teluk Persia memuat komoditasnya dari wilayah dalam perairan.

Kondisi geografis ini membuat setiap kapal tanker harus melewati ujian keamanan di Selat Hormuz untuk bisa menjangkau pasar global.

Selain Kuwait, Uni Emirat Arab juga dilaporkan telah menjual jutaan barel minyak dari kawasan Teluk Persia kepada kilang-kilang di Asia.

Meski demikian, total arus pengiriman energi dari wilayah tersebut secara keseluruhan masih berada jauh di bawah level sebelum terjadinya perang.

Penjualan Langsung Tanpa Perantara

Para trader menyebutkan bahwa pasokan minyak mentah ini ditawarkan langsung oleh perusahaan milik negara, Kuwait Petroleum Corp.

Penjualan tersebut dilakukan tanpa melibatkan pihak ketiga atau perantara perdagangan lainnya.